GODAAN promo tanggal kembar di layar ponsel sering kali memicu keinginan untuk segera memiliki barang impian. Kemudahan akses keuangan kini hadir dalam satu ketukan jari yang memungkinkan siapa saja berbelanja tanpa harus menunggu saldo mencukupi.
Paylater merupakan layanan pinjaman jangka pendek yang memungkinkan pengguna membeli barang sekarang dan membayarnya di kemudian hari. Fitur ini menjamur karena proses pengajuannya jauh lebih praktis daripada kartu kredit konvensional.
Berdasarkan survei Jakpat (07/04/2026), penggunaan fitur ini terus tumbuh pesat seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi digital masyarakat Indonesia. SPayLater saat ini mendominasi pasar sebagai layanan yang paling banyak digunakan oleh responden di tanah air.
Preferensi Pengguna terhadap Platform Paylater di Indonesia

Survei Jakpat mengungkap bahwa 76 persen dari 296 responden pengguna paylater memilih layanan SPayLater sebagai platform utama. Dominasi platform ini terlihat sangat kuat pada kelompok Gen Z dengan tingkat penggunaan mencapai 84 persen. Angka tersebut membuktikan bahwa generasi muda menjadi pendorong utama adopsi layanan kredit instan dalam ekosistem digital.
GoPayLater menempati posisi kedua dengan tingkat penggunaan sebesar 42 persen di kalangan Milenial dan Gen X.
Layanan CICIL dari aplikasi DANA berada di posisi berikutnya dengan raihan 25 persen pengguna nasional. Sementara itu, OVO PayLater mencatat angka penggunaan 16 persen dan LinkAja mencatat angka terendah sebesar 7 persen.
Sekitar 3 dari 4 pengguna lebih memilih SPayLater karena integrasi kuat dengan platform belanja daring. Faktor kemudahan akses serta fleksibilitas pembayaran menjadi alasan utama di balik popularitas layanan tersebut saat ini.
Risiko Konsumtif dan Perbandingan dengan Kartu Kredit
Kemudahan akses kredit instan memang membuat proses belanja terasa praktis namun menyimpan risiko besar jika tanpa kontrol. Akses instan sering kali mendorong perilaku konsumtif karena pengguna merasa bisa membeli barang tanpa uang yang cukup.
Kondisi ini berpotensi membuat tagihan menumpuk terutama bagi Gen Z yang menjadi kelompok pengguna terbesar tahun 2026. Jika kebiasaan ini berlanjut tanpa perencanaan keuangan, paylater bisa berubah menjadi jebakan utang yang mengganggu kesehatan mental.
Layanan paylater di Indonesia memang sudah mulai terhubung ke sistem pelaporan kredit Otoritas Jasa Keuangan melalui SLIK. Namun demikian, efeknya terhadap rekam jejak kredit belum sekuat kartu kredit atau pinjaman bank konvensional lainnya.
Kartu kredit umumnya lebih diakui perbankan karena memiliki riwayat penggunaan yang lebih jelas bagi para analis kredit. Penggunaan paylater yang berlebihan justru dapat dianggap sebagai tanda ketergantungan utang konsumtif saat bank menilai kelayakan kredit.
Strategi Optimasi Promo dan Keuntungan Pengguna
Meskipun demikian, paylater juga bisa memberikan keuntungan tambahan melalui berbagai promo khusus seperti cashback dan potongan harga menarik. Namun, strategi ini hanya efektif jika pengguna menggunakannya secara terencana dan bukan berdasarkan dorongan impulsif semata.
Pengguna sebaiknya memanfaatkan fitur ini hanya untuk transaksi yang memang sudah masuk ke dalam anggaran bulanan mereka. Dengan cara ini, diskon yang diperoleh benar-benar menjadi penghematan nyata bagi kondisi finansial pengguna tersebut.
Prinsip utamanya adalah menggunakan layanan ini sebagai alat optimasi arus kas jangka pendek saja. Pengguna harus disiplin menyiapkan dana pembayaran sebelum jatuh tempo agar tidak terbebani oleh bunga atau denda.
Kematangan dalam mengelola teknologi keuangan akan menentukan stabilitas finansial setiap individu di masa depan yang serba digital. Kesadaran akan batas kemampuan diri menjadi kunci agar fitur canggih ini tidak merugikan diri sendiri. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin