RUANG digital yang seharusnya menjadi tempat berbagi inspirasi kini sering berubah menjadi medan ketakutan bagi banyak perempuan. Bayang-bayang ancaman dari balik layar gawai mengintai aktivitas daring dan merampas rasa aman para penggunanya.
Kekerasan Berbasis Gender Online atau KBGO merupakan bentuk kekerasan yang menyasar korban melalui teknologi digital berdasarkan identitas gender. Tindakan ini mencakup pelecehan, ancaman, hingga penyebaran konten intim tanpa persetujuan yang merugikan korban secara psikologis.
Fenomena tersebut semakin mengkhawatirkan seiring meningkatnya penggunaan internet dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan laporan terbaru SAFEnet (09/05/2026), tren kekerasan di ranah digital menunjukkan angka yang sangat signifikan pada awal tahun ini.
Sebaran Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online di Indonesia

Meningkatnya aktivitas digital ternyata diikuti lonjakan kasus kekerasan berbasis gender di berbagai daerah. SAFEnet mencatat terdapat 734 kasus KBGO sepanjang Triwulan I tahun 2026 di seluruh Indonesia.
Jawa Barat menempati posisi pertama sebagai provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 148 kasus. Jawa Timur menyusul di urutan kedua dengan 109 kasus, sementara Jawa Tengah mencatat 106 kasus kekerasan.
DKI Jakarta berada di peringkat berikutnya dengan 78 kasus. Setelah itu, Provinsi Banten mencatat sebanyak 41 kasus KBGO.
Di luar Pulau Jawa, DI Yogyakarta mencatat 27 kasus. Lampung dan Sulawesi Selatan masing-masing melaporkan 14 kasus, sementara Sulawesi Utara mencatat 13 kasus dan Kalimantan Timur sebanyak 12 kasus kekerasan digital.
Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman di ruang digital tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga menyebar ke berbagai wilayah Indonesia. Bentuk kekerasannya pun semakin beragam dan menyasar kondisi psikologis korban.
Pemerasan seksual menjadi bentuk kekerasan yang paling dominan dengan ancaman penyebaran konten pribadi korban. Praktik objektifikasi juga sering menyerang individu yang berada dalam situasi rentan, termasuk saat mencari pekerjaan.
Ketimpangan Gender dan Ancaman di Lingkungan Pendidikan
Beragam bentuk kekerasan tersebut paling banyak dialami perempuan. Data korban pada periode Januari hingga Maret 2026 menunjukkan perempuan menjadi kelompok paling terdampak dengan total 476 kasus. Jumlah tersebut jauh melampaui korban laki-laki yang tercatat sebanyak 236 kasus.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa KBGO berkaitan erat dengan persoalan ketidaksetaraan gender yang masih mengakar di masyarakat. Perempuan masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami ancaman dan intimidasi di ruang digital.
Ironisnya, kekerasan digital kini juga merambah lingkungan pendidikan. SAFEnet menemukan adanya oknum guru yang memanfaatkan ancaman penyebaran konten intim untuk memberikan tekanan kepada siswa.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ruang yang seharusnya melindungi justru dapat berubah menjadi tempat penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan jahat. Karena itu, kesadaran kolektif untuk menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif harus menjadi prioritas bersama.
Strategi Melindungi Privasi dan Keamanan di Dunia Maya
Meningkatnya kasus KBGO membuat perlindungan data pribadi menjadi langkah penting untuk mencegah kejahatan digital. Pengguna internet perlu lebih sadar terhadap jejak informasi yang mereka bagikan di ruang maya.
Salah satu langkah dasar yang dapat dilakukan ialah memisahkan akun pribadi dengan akun publik agar batas informasi tetap terjaga. Pengaturan privasi pada setiap aplikasi juga perlu disesuaikan dengan tingkat kenyamanan masing-masing pengguna.
Selain itu, penggunaan kata sandi yang kuat dan verifikasi dua langkah sangat penting untuk menghindari peretasan akun. Langkah sederhana ini dapat membantu memperkecil risiko pencurian data pribadi.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap aplikasi pihak ketiga yang meminta akses data tanpa tujuan jelas. Menghindari berbagi lokasi secara waktu nyata turut membantu mencegah tindakan buruk dari orang asing maupun pengintai.
Di samping itu, pengguna internet harus waspada terhadap tautan mencurigakan yang dapat mencuri data pribadi melalui situs berbahaya. Pembersihan data diri secara rutin melalui metode detoks data juga membantu menjaga kendali atas informasi pribadi di internet.
Terakhir, kerahasiaan pin maupun kata sandi pada gawai harus dijaga dengan ketat untuk menghindari akses dari orang terdekat sekalipun. Kesadaran menjaga keamanan digital perlu menjadi kebiasaan baru di tengah tingginya ancaman siber saat ini. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin