SINAR matahari sore yang tembus ke teras rumah menemani percakapan hangat antara kakek dan cucunya setiap hari. Kehadiran keluarga sering kali menjadi satu-satunya sandaran bagi para orang tua saat tenaga mereka mulai perlahan memudar.
Memasuki usia lanjut, kebutuhan hidup seseorang umumnya mengalami perubahan besar terutama dalam aspek kesehatan dan jaminan ekonomi. Lansia memerlukan perlindungan finansial agar mereka dapat menjalani sisa kehidupan dengan aman serta layak di masa tua.
Sayangnya, tidak semua masyarakat memiliki kesempatan untuk menyiapkan dana hari tua sejak masih berusia produktif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (13/05/2026), keterbatasan akses terhadap program pensiun membuat banyak lansia menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat. Hal ini memaksa sebagian orang tua tetap bekerja atau bergantung sepenuhnya pada dukungan keluarga terdekat.
Sumber Utama Penghidupan Lansia di Indonesia

Keluarga menjadi sumber utama penghidupan lansia di tanah air dengan persentase mencapai 48,56 persen. Angka ini membuktikan bahwa hampir separuh populasi lansia masih mengandalkan bantuan anggota keluarga sebagai penopang ekonomi. Peran anak dan cucu sangat dominan dalam menjaga kesejahteraan para orang tua di lingkungan rumah tangga.
Di samping itu, sebanyak 37,72 persen lansia tercatat masih aktif bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa kemandirian finansial di usia senja masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar orang.
Sementara itu, lansia yang memperoleh penghasilan dari dana pensiun tetap hanya tercatat sebesar 8,82 persen. Kelompok yang mengandalkan jaminan sosial atau bantuan sosial sebagai sumber utama bahkan jauh lebih kecil, yakni 2,42 persen.
Sumber penghidupan dari tabungan serta investasi pribadi tercatat paling rendah dengan angka hanya 1,13 persen saja. Rendahnya angka investasi menunjukkan tantangan besar bagi masyarakat dalam menyiapkan kemandirian finansial jangka panjang sejak dini.
Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan yang nyata antara harapan hidup mandiri dengan realitas ekonomi di lapangan.
Risiko Ekonomi Ganda dan Rendahnya Literasi Keuangan
Ketergantungan tinggi terhadap keluarga menjadi sinyal kuat bahwa kesiapan finansial masyarakat Indonesia masih tergolong sangat rendah. Situasi ini berisiko menciptakan tekanan ekonomi ganda bagi generasi produktif yang juga harus menanggung biaya pendidikan anak. Selain itu, banyak lansia tetap bekerja karena mereka belum memiliki dana cadangan yang cukup untuk hidup layak.
Jika tren ini berlanjut, negara akan menghadapi beban sosial yang semakin besar seiring meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut. Fenomena ini muncul karena budaya perencanaan pensiun serta literasi keuangan di Indonesia memang belum merata secara luas.
Banyak masyarakat masih fokus pada kebutuhan jangka pendek dibanding menyiapkan tabungan hari tua atau instrumen investasi lainnya. Pekerja sektor informal juga sering kali tidak memiliki fasilitas jaminan masa tua seperti yang didapat pegawai formal.
Oleh karena itu, pemerintah perlu memperluas akses jaminan sosial agar setiap pekerja memiliki perlindungan di masa mendatang. Peningkatan edukasi keuangan sejak usia muda sangat mendesak agar risiko ketergantungan finansial dapat kita tekan secara signifikan. Kesejahteraan lansia di masa depan sangat bergantung pada persiapan yang matang sejak masa produktif saat ini. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin