Kaltimes.com – Halal bihalal diselenggarakan oleh Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kutai Timur merupakan contoh nyata bagaimana organisasi kemasyarakatan dapat berperan dalam memperkuat persatuan dan kerukunan di Kutai Timur.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur, Muhammad Ali menilai KKSS telah berkontribusi positif dalam membangun harmoni sosial di Kutai Timur. Pesan yang disampaikan oleh Ketua DPD KKSS Kutai Timur, Suharman mengenai pentingnya mencintai dan membangun Kutai Timur sebagai bagian dari identitas bersama, lanjut dia, sejalan dengan semangat pembangunan daerah yang inklusif.
DPRD Kutai Timur, kata dia, berkomitmen untuk mendukung inisiatif seperti ini yang bertujuan memperkuat kohesi sosial di masyarakat. Kami akan terus mendorong kebijakan-kebijakan yang memfasilitasi peran aktif organisasi kemasyarakatan dalam pembangunan daerah.
“Ke depan, kami berharap dapat lebih banyak berkolaborasi dengan KKSS dan organisasi kemasyarakatan lainnya dalam menyusun program-program yang bermanfaat bagi masyarakat Kutai Timur. Semoga semangat persatuan dan kebersamaan yang terbangun dalam acara Halal bihalal ini dapat terus terpelihara dan menjadi modal sosial yang kuat bagi kemajuan Kutai Timur,” papar anggota Komisi D (Bidang Kesejahteraan Rakyat) ini.
Acara Halal bihalal KKSS Kutai Timur berlangsung pada Sabtu, 11 Mei 2024 di Gedung Serba Guna, Kompleks kawasan Perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, mantan Gubernur Kaltim Isran Noor, Wakil Ketua DPD RI, Mahyudin serta sejumlah pejabat lainnya.
Dalam sambutannya Bupati Kutai Timur, Ardiansyah menyampaikan apresiasi terhadap usaha KKSS dalam memelihara persatuan di tengah masyarakat Kutai Timur. “Halal bihalal adalah momentum untuk mempererat tali persaudaraan, yang tak terikat oleh waktu,” ujarnya.
Ketua BPD KKSS Kutai Timur, Suharman mengajak semua pihak, khususnya anggota KKSS untuk berkontribusi dalam membangun Kutai Timur sebagai bagian dari identitas mereka. “Jika kita terus menganggap diri sebagai pendatang, kita tidak akan pernah sepenuh hati mencintai daerah ini,” paparnya. (ADV-DPRD/Q)