Keresahan 39,5 Persen Anak Muda: Lapangan Kerja Jadi Persoalan Paling Mendesak di 2026

kaltimes.com
1 Mei 2026
Share
Berdasarkan Survei Nasional Muda Bicara ID Kuartal I 2026, sebanyak 39,5 persen anak muda menilai ketersediaan peluang kerja sebagai tantangan paling mendesak yang mereka hadapi saat ini./Ilustrasi

CAHAYA lampu kota tidak mampu menyembunyikan kecemasan anak muda yang masih berjuang mencari kerja. Setiap pagi, layar gawai menjadi harapan untuk menemukan peluang yang bisa menjamin masa depan.

Perubahan ekonomi yang cepat membuat generasi muda menjadi kelompok paling terdampak. Mereka menghadapi persaingan ketat di tengah ketidakpastian pasar kerja yang terus berubah.

Survei Nasional Muda Bicara ID Kuartal I 2026 memperkuat gambaran tersebut. Sebanyak 39,5 persen responden menilai ketersediaan lapangan kerja sebagai persoalan paling mendesak.

Temuan ini menunjukkan bahwa keresahan anak muda bukan sekadar persepsi, melainkan berkaitan langsung dengan kondisi riil di lapangan.

Pengangguran Muda Mendominasi Struktur Pasar Kerja

Data Badan Pusat Statistik melalui Sakernas Agustus 2025 mencatat total pengangguran mencapai sekitar 7,46 juta orang. Angka ini terkonsentrasi pada kelompok usia muda.

Kelompok usia 20 hingga 24 tahun mencatat jumlah tertinggi dengan sekitar 2,34 juta orang belum bekerja. Kondisi ini menegaskan bahwa lulusan baru menghadapi hambatan besar saat masuk ke dunia kerja.

Kelompok usia 15 hingga 19 tahun juga menyumbang sekitar 1,50 juta penganggur, mayoritas belum memiliki pengalaman kerja. Sementara itu, usia 25 hingga 29 tahun mencapai sekitar 1,18 juta orang.

Memasuki usia 30 tahun, angka pengangguran mulai menurun menjadi sekitar 607 ribu orang. Tren ini berlanjut pada usia 35 hingga 39 tahun yang tercatat sekitar 413 ribu orang.

Kelompok usia di atas 45 tahun relatif lebih kecil, dengan kisaran sekitar 320 ribu hingga 321 ribu orang. Pola ini menegaskan bahwa usia 15 hingga 29 tahun menjadi pusat tekanan pasar kerja nasional.

Transisi Pendidikan ke Kerja Jadi Titik Kritis

Dominasi pengangguran pada usia muda menunjukkan adanya masalah pada fase transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Banyak lulusan sudah siap bekerja, tetapi tidak menemukan peluang yang sesuai.

Ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri menjadi faktor utama. Perusahaan kini lebih selektif, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kondisi ini menjelaskan mengapa keresahan anak muda sejalan dengan data statistik. Apa yang mereka rasakan merupakan refleksi langsung dari realitas pasar kerja.

Oleh karena itu, solusi tidak cukup hanya membuka lowongan kerja. Pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas keterampilan agar lulusan mampu memenuhi kebutuhan industri. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin