DI BANYAK warung, pilihan sederhana terjadi setiap hari: beli makan bergizi, atau beli rokok. Sayangnya, banyak yang memilih asap. Akibatnya, uang yang seharusnya bisa membeli telur, sayur, atau daging malah terbakar begitu saja.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, masyarakat Indonesia lebih banyak menghabiskan uang untuk makanan jadi dan rokok dibanding bahan makanan mentah. Faktanya, BPS menyurvei 345 ribu rumah tangga dan menemukan rata-rata pengeluaran makanan dan minuman jadi mencapai Rp 248 ribu per orang per bulan.
Yang mengejutkan, rokok menempati posisi kedua dengan rata-rata pengeluaran Rp 91 ribu per bulan. Lebih lanjut, nilai rokok bahkan jauh lebih tinggi dari pengeluaran padi-padian (Rp 89 ribu), sayur (Rp 64 ribu), atau ikan (Rp 61 ribu). Buah, telur, dan susu juga kalah jauh.

Hitung-Hitung: Satu Bungkus Rokok = 11 Butir Telur

Jika seorang perokok menghabiskan satu bungkus rokok senilai Rp 35.000 setiap hari (menurut data dari laman Blibli (30/10/2025)), kita dapat mengkonversi uang ini menjadi protein. Sebagai perbandingan, harga telur ayam ras lokal di Kaltim rata-rata Rp 3000 per butir. Dengan uang Rp 35.000, seseorang dapat membeli sekitar 11 butir telur. Perhitungan ini adalah Rp 35.000 dibagi Rp 3000.
Oleh karena itu, setiap bungkus rokok yang seseorang bakar sama dengan membuang gizi seminggu penuh. Ini bukan cuma soal gaya hidup, melainkan soal malnutrisi anggaran. Ini menunjukkan prioritas uang yang salah arah.
Kaltim: Juara Rokok, Tapi Bukan Gizi

Namun demikian, masalahnya makin besar di daerah tambang. Data dari BPS yang dilansir Tribun Kaltim (22/10/2025) mencatat, rata-rata pengeluaran rokok per orang di Kutai Timur mencapai Rp143.293 per bulan. Angka ini 56 persen lebih tinggi dari rata-rata nasional (Rp 91.708).

Dengan kata lain, tingginya angka di Kutai Timur ini menggambarkan tekanan lingkungan kerja yang ekstrem. Pengeluaran rokok yang masif ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
Kenyataan ini adalah refleksi serius atas prioritas kolektif kita. Kita harus mengutamakan kesehatan di atas candu. Oleh sebab itu, edukasi mengenai alokasi anggaran dan pentingnya nutrisi harus diperkuat. Generasi muda harus memilih: mau isi perut dengan protein, atau isi paru-paru dengan asap?(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin