MAHAKAMA – Setiap manusia pasti menyimpan satu harapan besar dalam hidupnya, yaitu merasakan kebahagiaan yang sejati. Hampir seluruh doa dan resolusi yang terucap selalu menyelipkan kata bahagia sebagai tujuan akhir dari setiap perjuangan.
Harapan itu hadir di berbagai kalangan, lintas agama dan budaya. Namun dalam kenyataannya, tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan dengan mudah.
Hal ini terjadi karena kebahagiaan tidak memiliki ukuran pasti. Setiap individu memiliki standar kepuasan hidup yang berbeda.
Gambaran mengenai tantangan kebahagiaan ini terlihat dalam riset terbaru yang memotret kehidupan masyarakat modern. Lembaga survei Ipsos melakukan penelitian terhadap 23,76 ribu responden dari 30 negara dan menemukan bahwa faktor ekonomi menjadi beban paling besar yang memengaruhi kondisi mental manusia.
Masalah Finansial dan Mental Mendominasi Sumber Ketidakbahagiaan

Berdasarkan hasil survei tersebut, penyebab hilangnya kebahagiaan paling dominan adalah masalah keuangan pribadi. Sebanyak 58 persen responden menyebut kondisi finansial yang buruk sebagai sumber utama rasa sedih dan cemas.
Masalah seperti utang menumpuk atau biaya hidup yang terus meningkat menjadi tekanan yang sulit dihindari. Kondisi ini menunjukkan betapa kuat pengaruh ekonomi terhadap ketenangan batin seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain faktor finansial, stres dan gangguan mental juga menjadi penyebab utama ketidakbahagiaan. Sekitar 30 persen responden dunia menyebut tekanan dari lingkungan kerja maupun keluarga sering membuat kondisi mental mereka terpuruk.
Faktor kesehatan fisik turut berperan dalam menentukan tingkat kebahagiaan. Sebanyak 25 persen responden merasa tidak bahagia saat tubuh mengalami sakit karena kondisi tersebut mengganggu produktivitas serta hubungan sosial.
Di sisi lain, kondisi ekonomi negara yang sulit juga memengaruhi perasaan masyarakat. Sekitar 23 persen responden menyebut situasi ekonomi nasional sebagai salah satu sumber ketidakbahagiaan mereka.
Temuan ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi, baik pada tingkat pribadi maupun negara, menjadi faktor penting dalam membentuk kebahagiaan masyarakat. Ketika kondisi finansial dan ekonomi makro tidak stabil, tekanan psikologis masyarakat cenderung meningkat.
Perbandingan Kebahagiaan Global dan Jaminan Kesejahteraan Negara

Gallup rutin melakukan penilaian tingkat kebahagiaan global untuk memberi gambaran skala kualitas hidup antar negara. Negara-negara Nordik secara konsisten mendominasi posisi teratas sebagai wilayah dengan penduduk paling bahagia di seluruh dunia.
Finlandia meraih skor tertinggi sebesar 7,736 poin, disusul oleh Denmark dengan skor 7,521 dan Islandia 7,515 poin. Swedia menutup posisi empat besar dengan skor 7,345 poin berdasarkan data rata-rata dari 2023 hingga 2025.
Kebutuhan Dasar dalam Mencapai Kebahagiaan Tertinggi
Menurut Aristotle dalam Nicomachean Ethics, kebahagiaan merupakan tujuan tertinggi dalam kehidupan manusia. Namun tujuan tersebut hanya dapat tercapai ketika kebutuhan dasar dan kondisi hidup yang layak telah terpenuhi.
Gagasan ini sejalan dengan temuan survei Ipsos yang menunjukkan bahwa masalah finansial menjadi sumber utama ketidakbahagiaan. Ketika kondisi ekonomi seseorang baik, kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan dan tempat tinggal dapat terpenuhi sehingga tekanan hidup berkurang.
Situasi serupa terlihat di negara-negara Nordik yang memiliki stabilitas ekonomi kuat dan sistem kesejahteraan yang mampu menjamin kebutuhan dasar warganya. Lingkungan sosial dan ekonomi yang stabil membuat masyarakat lebih mudah mencapai kualitas hidup yang baik.
Tanpa stabilitas material dan lingkungan yang mendukung, manusia akan kesulitan mencapai kesejahteraan hidup. Karena itu, kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan sosial. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin