Sokongan Proyek Strategis: 7,63 Ribu Perusahaan Konstruksi Kaltim Tembus 10 Besar Nasional

kaltimes.com
7 Apr 2026
Share
Didorong oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara dan proyek strategis nasional, Kalimantan Timur kini menempati peringkat sembilan nasional dengan total 7,63 ribu perusahaan konstruksi yang siap mendukung akselerasi infrastruktur di wilayah tersebut./Ilustrasi

SEKTOR konstruksi menjadi tulang punggung utama bagi percepatan pembangunan infrastruktur di tanah air. Aktivitas ini tidak hanya membangun fisik bangunan tetapi juga menghidupkan nadi ekonomi lokal. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perusahaan konstruksi di Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 199,01 ribu unit.

Namun demikian, persebaran pelaku usaha ini masih menunjukkan konsentrasi yang sangat tinggi di wilayah tertentu. Data mencatat bahwa sekitar 40,47 persen perusahaan konstruksi masih berpusat di Pulau Jawa. Angka ini menegaskan bahwa pusat kegiatan jasa konstruksi nasional belum tersebar merata ke seluruh pelosok negeri.

Struktur Skala Usaha di Indonesia

Ketimpangan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi wilayah, tetapi juga dari struktur skala usaha. Mayoritas pelaku industri masih didominasi usaha kecil yang mencapai 86,66 persen dari total perusahaan dan tersebar di berbagai daerah. 

Sementara itu, usaha menengah mencakup 12,75 persen, sedangkan perusahaan besar hanya 0,59 persen. Komposisi ini menunjukkan bahwa kekuatan industri konstruksi nasional masih bertumpu pada pelaku usaha kecil. Namun, kelompok ini umumnya memiliki keterbatasan dalam akses pembiayaan dan kapasitas proyek.

Peringkat Provinsi dengan Perusahaan Terbanyak

Dominasi Pulau Jawa semakin terlihat pada tingkat provinsi. Jawa Timur memimpin peringkat nasional dengan 24,56 ribu perusahaan konstruksi, diikuti Jawa Barat (17,92 ribu), Jawa Tengah (15,42 ribu), dan DKI Jakarta (13,13 ribu). 

Dominasi empat besar ini menegaskan kuatnya konsentrasi aktivitas konstruksi di Pulau Jawa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Kondisi tersebut kemudian berlanjut ketika melihat wilayah di luar Jawa. Sulawesi Selatan menjadi yang tertinggi dengan 11,22 ribu perusahaan. Data ini disusul Sumatera Utara (10,08 ribu), serta Kalimantan Barat (7,89 ribu), Banten (7,72 ribu), Kalimantan Timur (7,63 ribu) dan Riau (7,28 ribu). 

Meski tersebar di berbagai wilayah, jumlahnya masih berada di bawah provinsi-provinsi di Jawa. Akibatnya, hal ini dapat memperkuat indikasi ketimpangan distribusi industri konstruksi secara nasional.

Dampak Proyek Strategis di Kalimantan Timur

Di tengah ketimpangan tersebut, Kalimantan Timur menunjukkan pertumbuhan signifikan hingga masuk sepuluh besar nasional. Hal ini didorong pembangunan infrastruktur dan proyek strategis seperti Ibu Kota Nusantara. 

Aktivitas pertambangan juga meningkatkan kebutuhan fasilitas pendukung, sehingga permintaan jasa konstruksi ikut naik.

Perkembangan ini menunjukkan distribusi industri dapat bergeser melalui investasi besar dan kebijakan strategis. Namun, dominasi Pulau Jawa masih menjadi tantangan karena kapasitas dan akses pembiayaan yang lebih kuat berpotensi menyerap proyek daerah, sehingga pelaku lokal sulit berkembang. Kondisi ini menuntut kebijakan inklusif untuk memperkuat perusahaan kecil di luar Jawa.

Pembangunan fisik penting bagi negara yang tumbuh pesat. Namun, kemajuan berkelanjutan hanya tercapai jika setiap daerah mampu mandiri, dengan pemerataan peluang agar manfaat pembangunan dirasakan lebih adil di seluruh Indonesia.  (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin