LEBIH dari sekadar perasaan suka. Erotomania adalah kondisi di mana seseorang yakin akan cinta tak berbalas yang sebenarnya hanya delusi. Di balik rasa percaya diri yang tampak, tersembunyi perjuangan jiwa yang membutuhkan perhatian dan pemahaman.
Erotomania merupakan salah satu bentuk gangguan delusi. Kondisi ini ditandai dengan keyakinan salah bahwa seseorang, biasanya yang berstatus sosial tinggi atau terkenal, mencintai dirinya dengan intens meski tanpa bukti konkret atau balasan perasaan.
Dilansir dari psikologi Universitas Medan Area, gejala utama erotomania meliputi keyakinan yang kuat merasa dicintai. Dampak jangka panjang sering disertai perilaku menguntit, komunikasi yang berlebihan, hingga tindakan yang berpotensi merugikan. Kondisi ini bisa muncul sebagai bagian dari gangguan jiwa lain seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau gangguan depresi dengan ciri psikotik. Media sosial yang menyediakan akses luas dan interaksi tanpa batas seringkali memperburuk atau memicu gejala tersebut.(Erotomania, Meyakini Seseorang Mencintainya Padahal Tidak Nyata, Universitas Medan Area, 2022)
Data gangguan delusi secara umum menunjukkan bahwa erotomania tergolong jarang terjadi dibandingkan tipe delusi lain. Studi registrasi kasus di Spanyol mencatat bahwa delusi penganiayaan (persecutory) paling sering ditemukan, dengan persentase 48 persen.
Delusi cemburu dan delusi campuran masing-masing mencapai 11 persen, sedangkan delusi somatik sebesar 5 persen. Erotomania hanya tercatat sekitar 1,2 persen dalam studi retrospektif di Taiwan, sama rendahnya dengan delusi grandiose yang juga 1,2 persen Meski demikian, meskipun langka, erotomania tetap memiliki dampak serius bagi individu dan orang di sekitarnya, terutama dalam konteks sosial dan hukum. (Sumber: de Portugal, E., González, N., Haro, J. M., Autonell, J., & Cervilla, J. A., A descriptive case-register study of delusional disorder, 2008 dan Hsiao, F. H., Lin, W. C., & Chen, C. H., Delusional disorder: retrospective analysis of 86 Chinese outpatients, 2000).

Kesimpulannya, erotomania bukan sekadar “ge-er berlebihan” atau kepedean, melainkan gangguan jiwa yang membutuhkan pemahaman dan penanganan khusus. Stigma dan kurangnya edukasi sering membuat penderita sulit mendapatkan dukungan yang tepat. Dengan meningkatnya penggunaan media sosial, risiko pemicu dan ekskalasi gejala erotomania pun semakin tinggi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda dan memberikan ruang empati, serta mendorong akses terhadap layanan kesehatan mental profesional.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin