POPCORN bukan sekadar camilan saat menonton film. Camilan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman menyaksikan film di bioskop. Aroma khas yang gurih dan rasa manis atau asin yang renyah membuatnya jadi favorit banyak penonton. Di balik kesederhanaannya, popcorn memegang peran besar dalam mendatangkan keuntungan bagi industri bioskop.
Menurut laporan Kompas, penjualan makanan dan minuman, terutama popcorn memiliki margin keuntungan lebih besar dibanding penjualan tiket. Di jaringan Cinema XXI misalnya, penjualan food & beverages (F&B) menyumbang 53,94 persen dari total pendapatan tiket. Adapun margin laba popcorn disebut mencapai 73 persen, lebih tinggi dari margin tiket yang hanya sekitar 50 persen. (https://www.kompas.id/artikel/popcorn-camilan-favorit-yang-jadi-mesin-uang-bioskop, Kompas, 2025)

Tingginya margin ini sejalan dengan tingginya minat konsumen. Survei Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pada Maret 2025 mengungkapkan bahwa kebiasaan mengonsumsi popcorn di bioskop masih sangat tinggi. Camilan ini tetap menjadi pilihan utama penonton saat menikmati film. Preferensi rasa pun beragam. Pria umumnya menyukai rasa manis, sementara perempuan lebih suka kombinasi manis dan asin.
Popcorn menjadi ide bisnis yang menguntungkan karena berperan penting dalam model ekonomi bioskop. Studi Wesley R. Hartmann dan Ricard Gil yang dipublikasikan dalam Marketing Science (2009), menjelaskan bahwa harga camilan yang tinggi merupakan strategi vital untuk menopang operasional bioskop. Dengan mengandalkan margin besar dari penjualan makanan dan minuman, pihak bioskop bisa menjaga harga tiket tetap terjangkau. Strategi ini memungkinkan lebih banyak orang datang menonton, sekaligus memastikan bisnis tetap untung.
Popcorn kini bukan hanya teman menonton, tetapi juga penopang utama keberlanjutan bisnis bioskop. Perannya sebagai bagian dari budaya sekaligus sumber cuan menjadikannya camilan yang strategis dan tak tergantikan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin