Lari dari Stres: Saat Setiap Kilometer Membawa Kedamaian

kaltimes.com
21 Mei 2025
Share

STRESS telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dalam rutinitas yang padat dan tekanan yang terus datang dari berbagai arah, stres tak hanya membebani mental, tetapi juga bisa mengganggu kondisi fisik seseorang. Dalam istilah medis, ini dikenal sebagai gangguan psikosomatis. Artinya, ketika tekanan emosional memicu keluhan fisik seperti susah tidur, hilangnya semangat, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan pencernaan.

Menurut laman resmi RSUP Dr. Sardjito, kondisi psikosomatis biasanya terjadi setelah tubuh mengalami respons stres yang terus-menerus. Ketika tekanan tak kunjung reda, tubuh pun mulai menunjukkan gejala sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Namun di tengah kondisi yang tampak kompleks ini, ada satu solusi sederhana yang terbukti efektif, yaitu lari. Aktivitas yang mungkin terlihat biasa ini ternyata menyimpan manfaat luar biasa bagi kesehatan mental. Lebih dari sekadar olahraga, lari kini dianggap sebagai salah satu bentuk terapi alami yang bisa membantu meredakan stres.

Dukungan terhadap klaim ini datang dari data Garmin Connect, sebuah platform kebugaran global yang mengumpulkan dan menganalisis aktivitas fisik penggunanya. Dalam laporan terbarunya yang dirilis Juni 2024, Garmin memaparkan hubungan yang jelas antara intensitas lari dan tingkat stres yang lebih rendah.

Garmin menggunakan skala 0 hingga 100 untuk mengukur stres, dengan pembagian sebagai berikut: 

  • 0–25, stres rendah
  • 26–50, stres sedang
  • 51–75, stres tinggi
  • 76–100, stres sangat tinggi. 

Hasil analisis menunjukkan bahwa semakin sering dan jauh seseorang berlari dalam seminggu, semakin rendah skor stres yang tercatat.

Pengguna yang rutin berlari lebih dari 80 kilometer per minggu mencatat rata-rata skor stres terendah dibanding kelompok lainnya. Sementara itu, mereka yang tidak melakukan aktivitas lari sama sekali memiliki skor stres rata-rata sekitar 23 persen lebih tinggi dari kelompok pelari jarak jauh tersebut.

Menariknya, penurunan tingkat stres sudah mulai terlihat pada kelompok yang berlari 40 hingga 60 kilometer per minggu. Di kelompok ini, skor rata-rata sudah masuk dalam kategori stres rendah, yaitu di bawah angka 25. Artinya, manfaat pengelolaan stres melalui lari tidak harus menunggu hingga mencapai jarak ekstrim. Konsistensi berlari dalam jumlah sedang pun sudah memberikan dampak yang signifikan.

Temuan ini mempertegas bahwa lari bukan hanya aktivitas untuk menjaga kebugaran fisik, tapi juga alat bantu untuk menjaga keseimbangan mental. Di tengah mahalnya biaya terapi dan layanan kesehatan mental, solusi seperti ini menjadi alternatif yang terjangkau, mudah dilakukan, dan minim risiko.

Lari tidak menjanjikan hidup tanpa stres, tetapi bisa menjadi salah satu cara untuk menghadapinya dengan lebih sehat. Karena pada akhirnya, setiap kilometer yang ditempuh bukan hanya menjauhkan tubuh dari penyakit, tapi juga membawa pikiran ke tempat yang lebih tenang.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin