Konser Musik: Ajang Pelarian yang Berujung Ketergantungan Emosional

kaltimes.com
22 Mei 2025
Share

MINAT masyarakat terhadap konser di Indonesia terus meningkat pada 2024. Laporan “Music Concert Trends & Fan Behaviors 2024” dari Jakpat, yang melibatkan 2.131 responden, menunjukkan bahwa Gen Z (47 persen) dan Milenial (53 persen) menjadi mayoritas penonton. Festival musik lebih digemari dibanding konser solo. 80 persen responden memilih festival musik. Alasannya, karena menghadirkan lebih banyak musisi dalam satu acara. Loyalitas penggemar juga terlihat dari keaktifan mereka dalam komunitas fanbase (40 persen) dan pembelian merchandise (16 persen).

Popularitas genre musik menunjukkan bahwa pop masih mendominasi. 71 persen responden meminati pop. Diikuti dangdut (34 persen), K-pop (31 persen) dan rock (26 persen). Selanjutnya aliran jazz (25 persen), classic (24 persen), religious (24 persen), hip hop (22 persen) dan indie (19 persen) serta terakhir J-pop/J-rock (19 persen). Pop tetap menjadi genre favorit karena daya tariknya yang luas. Sementara itu, K-pop semakin populer di kalangan perempuan (50 persen). Ini mencerminkan pengaruh budaya global yang kian dominan. Sementara itu, 37 persen pria lebih menyukai musik rock, yang dikenal dengan instrumen kuat dan ritme dinamis.

Minat terhadap konser tidak hanya dipengaruhi oleh preferensi musik, tetapi juga oleh pengalaman sosial dan emosional yang ditawarkannya. Sebanyak 55 persen menghadiri konser untuk mencari hiburan, sementara 50 persen untuk melepas stres. Faktor lain yang mendorong minat adalah keinginan melihat musisi favorit (42 persen), menikmati suasana konser (38 persen), serta dukungan terhadap musisi favorit (24 persen). Selain itu, 22 persen datang karena diajak teman atau keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa konser bukan hanya tentang musik, tetapi juga menjadi wadah interaksi sosial dan pelarian dari rutinitas.

Menonton konser bukan hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memiliki manfaat psikologis yang signifikan. Penelitian oleh Fancourt dan Williamon (2016) dalam jurnal “Psychoneuroendocrinology” menemukan bahwa menghadiri konser dapat mengurangi kadar kortisol, hormon yang terkait dengan stres, serta meningkatkan perasaan bahagia dan relaksasi. Musik live menciptakan suasana yang imersif, merangsang produksi endorfin, serta meningkatkan ikatan sosial antar penonton. Selain itu, konser juga dapat memberikan efek positif terhadap kesejahteraan mental dengan membantu individu merasa lebih rileks, meningkatkan rasa kebersamaan, serta memberikan pengalaman emosional yang mendalam yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Meskipun konser membawa kebahagiaan dan mengurangi stres, bagi sebagian orang, euforia tersebut dapat berujung pada Post Concert Depression (PCD). Penelitian oleh Thompson dan Gilbert (2020) dalam jurnal “The Psychological Effects of Live Music Events” menunjukkan bahwa setelah menghadiri konser, individu mengalami lonjakan emosi yang intens, tetapi ketika acara usai, mereka sering merasakan kekosongan emosional. Kehilangan momen spesial yang sulit diulang dalam kehidupan sehari-hari menjadi faktor utama munculnya PCD. Studi ini juga mengungkapkan bahwa mereka yang memiliki keterikatan emosional kuat dengan musisi lebih rentan mengalaminya. Ini membuktikan bahwa meskipun konser bisa menjadi cara efektif untuk melepas stres, intensitas emosinya juga dapat meninggalkan dampak psikologis yang cukup dalam bagi sebagian penggemar.

Untuk mengatasi PCD, penelitian oleh Baker dan Bor (2018) dalam jurnal “Music and Mental Well-being” merekomendasikan strategi seperti mengabadikan momen konser dalam bentuk foto atau video, berbagi pengalaman dengan sesama penggemar, serta merencanakan acara serupa di masa depan. Dengan memahami dinamika emosional ini dan menerapkan strategi yang tepat, penggemar dapat menikmati konser secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Konser musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki dampak emosional yang signifikan. Pengalaman ini memperkuat koneksi sosial dan meningkatkan kesejahteraan mental. Industri hiburan dan brand dapat memanfaatkan keterikatan emosional audiens untuk menarik lebih banyak penonton dan memperkuat loyalitas penggemar melalui pengalaman konser yang berkesan. Dengan menghadirkan pengalaman autentik dan emosional, brand dapat memperkuat hubungan dengan penggemar dan meningkatkan loyalitas mereka. Bagi sebagian individu, intensitas emosional konser dapat memicu PCD, yaitu perasaan kehilangan setelah konser berakhir. Untuk mengatasinya, penggemar dapat mengabadikan momen konser, berbagi pengalaman dengan sesama penggemar dan merencanakan acara serupa di masa depan agar tetap terhubung dengan euforia konser.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin