DI TENGAH gencarnya kampanye pelestarian alam, kabar suram datang dari ujung timur Indonesia. Ketika satu spesies kunci seperti komodo mulai menunjukkan penurunan jumlah, keseimbangan rantai kehidupan di sekitarnya ikut terancam. Ini bukan sekadar soal satu jenis hewan, ini tentang rapuhnya fondasi biodiversitas yang kita miliki.
Data dari Mongabay Indonesia, Balai Taman Nasional Komodo, populasi komodo menunjukkan tren yang fluktuatif selama tujuh tahun terakhir. Pada tahun 2018, jumlah komodo tercatat sebanyak 2,8 ribu ekor. Setahun setelahnya, angka itu naik menjadi 3 ribu, lalu terus meningkat pada 2020 menjadi 3,1 ribu ekor. Tren positif ini berlanjut hingga 2021, di mana jumlah komodo mencapai 3,3 ribu ekor.
Mirisnya, memasuki tahun 2022, populasi komodo mulai mengalami penurunan menjadi 3,1 ribu ekor. Meski sempat kembali naik pada 2023 menjadi 3,3 ribu ekor, namun tren itu tak bertahan lama. Tahun 2024 justru mencatatkan penurunan lagi menjadi 3,2 ribu ekor. Penurunan ini, meskipun belum drastis, menunjukkan bahwa ancaman terhadap populasi komodo tetap nyata dan perlu diwaspadai.

Fluktuasi ini menunjukkan betapa rapuhnya upaya konservasi jika tidak diiringi dengan perlindungan habitat secara menyeluruh. Penurunan jumlah komodo di tahun terakhir menandakan bahwa tantangan terhadap keberlangsungan spesies purba ini belum berakhir. Jika tidak ada langkah konkret dan berkelanjutan, Indonesia berisiko kehilangan salah satu simbol biodiversitas dunia.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin