Kalimantan Timur Peringkat Dua Kerusakan Hutan Nasional: 47 Ribu Hektare Lahan Gundul 2025

kaltimes.com
13 Apr 2026
Share
Kalimantan Timur menempati peringkat kedua nasional dalam laju kerusakan hutan tahun 2025 dengan kehilangan tutupan hutan seluas 47,14 ribu hektare akibat aktivitas pertambangan, sawit, dan industri kayu./Ilustrasi

SUNYI hutan yang dahulu riuh oleh kicauan burung kini berganti suara mesin gergaji. Hamparan hijau yang menjadi paru-paru dunia perlahan menghilang dan menyisakan lahan gundul yang gersang.

Laju kerusakan hutan atau deforestasi di Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Aktivitas manusia seperti pembukaan lahan sawit, pertambangan, dan industri kayu menjadi pemicu utama penggundulan hutan secara permanen. Fenomena ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam keseimbangan iklim dan keselamatan warga dari bencana alam.

Kalimantan Tengah Puncaki Daftar Kerusakan Hutan

Data terbaru dari Auriga Nusantara per 31 Maret 2026 mengungkap fakta mengejutkan mengenai hilangnya tutupan hutan. Kalimantan Tengah menempati posisi pertama dengan total deforestasi mencapai 56,90 ribu hektare pada tahun 2025. Angka ini meningkat drastis jika kita bandingkan dengan luas kerusakan 33,39 ribu hektare pada tahun 2024.

Kalimantan Timur berada di peringkat kedua dengan kerusakan hutan seluas 47,14 ribu hektare. Ekspansi tambang batu bara, perkebunan kelapa sawit dan pembangunan infrastruktur menjadi pemicu utama dilansir BBC (8/7/2023).

Lonjakan paling dramatis justru terjadi di Provinsi Aceh yang mencapai angka 38,16 ribu hektare. Padahal, luas deforestasi di wilayah Aceh pada tahun 2024 hanya sebesar 8,96 ribu hektare saja.

Pergeseran Wilayah Deforestasi ke Timur Indonesia

Tekanan terhadap hutan kini mulai bergeser secara signifikan ke wilayah timur Indonesia, khususnya Papua. Papua Tengah mencatat kenaikan tajam menjadi 26,98 ribu hektare dari sebelumnya hanya 6,36 ribu hektare. 

Selain itu, Papua Pegunungan turut melaporkan kerusakan hutan seluas 16,47 ribu hektare sepanjang tahun 2025.

Di Pulau Sumatra, wilayah Sumatra Barat juga mengalami lonjakan mencolok hingga menyentuh angka 26,94 ribu hektare. Sumatra Utara menyusul dengan luas deforestasi sebesar 20,51 ribu hektare pada periode yang sama. 

Di sisi lain, Riau justru mencatatkan penurunan laju kerusakan hutan menjadi 17,81 ribu hektare.

Kaitan Kerusakan Hutan dengan Bencana Alam

Pola kerusakan hutan pada tahun 2025 menunjukkan korelasi kuat dengan bencana banjir dan tanah longsor. Wilayah seperti Aceh dan Sumatra Barat mengalami lonjakan deforestasi ekstrem bersamaan dengan meningkatnya frekuensi bencana alam. 

Oleh karena itu, penggundulan hutan bukan lagi sekadar isu lingkungan semata melainkan risiko keselamatan jiwa yang nyata.

Kenaikan tajam di wilayah Papua menandakan bahwa hutan yang sebelumnya utuh kini mulai terpapar eksploitasi besar-besaran. Pergeseran ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk menerapkan pengawasan hutan yang jauh lebih ketat. Tanpa kebijakan yang adaptif, laju kerusakan hutan akan terus mengancam stabilitas ekologi dan ekonomi masyarakat lokal. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin