KaburAjaDulu: Data Menyebutkan HongKong Menjadi Tujuan Utama Warga untuk “Kabur”

kaltimes.com
22 Feb 2025
Share

TAGAR #KaburAjaDulu menjadi viral di berbagai platform media sosial, khususnya X (sebelumnya Twitter). Tagar ini mengajak generasi muda Indonesia merantau ke luar negeri untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ini bisa dilakukan melalui pendidikan atau pekerjaan. Fenomena ini memicu perdebatan hangat di kalangan masyarakat dan pemerintah mengenai implikasi sosial, ekonomi, dan nasionalisme.

Menurut data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) yang diakses pukul 07.56 Wita, 18 Februari 2025, penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2024, total penempatan PMI mencapai 297.434 pekerja di seluruh dunia. Nilai ini meningkat 0,11 persen dibandingkan tahun 2023 yang berjumlah 297.108 pekerja.

Hong Kong menjadi negara tujuan utama dengan 99.773 pekerja pada tahun 2024, naik 13,16 persen dari tahun 2023. Taiwan dan Malaysia menyusul dengan masing-masing 84.581 dan 51.723 pekerja. Negara-negara lain seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, Italia, Brunei Darussalam, dan Turki juga menjadi destinasi populer bagi PMI.

Dilansir dari CNN Indonesia dalam berita berjudul “Nusron Sebut Tren #KaburAjaDulu Tanda Warga Tak Cinta Tanah Air” (2025), Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, menilai tren #KaburAjaDulu sebagai indikasi kurangnya rasa patriotisme dan cinta tanah air di kalangan masyarakat. Ia menganggap bahwa keinginan untuk meninggalkan Indonesia demi kehidupan yang lebih baik menunjukkan ketidakpuasan terhadap kondisi dalam negeri.

Meskipun Menteri Nusron Wahid menganggap tren #KaburAjaDulu sebagai tanda kurangnya patriotisme, banyak masyarakat berpendapat sebaliknya. Mereka melihat fenomena ini sebagai respons terhadap kebijakan ekonomi yang tidak memihak mereka. Contohnya, upah minimum yang rendah dan tingginya biaya hidup yang tidak sebanding dengan gaji yang diterima. Hal tersebut mendorong generasi muda mencari peluang di luar negeri demi kehidupan yang lebih baik.

Fenomena ini juga mencerminkan keputusasaan akibat ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin melebar. Menurut jurnal “Youth Employment and Economic Development in Indonesia” yang ditulis oleh Ari Pradhanawati dan Budi Santoso (2023), salah satu faktor utama yang mendorong migrasi tenaga kerja muda adalah minimnya kesempatan kerja yang layak dan berkelanjutan di dalam negeri. Studi ini menemukan bahwa angka pengangguran di Indonesia memang menurun.

Namun, banyak pekerjaan yang tersedia bersifat informal, seperti pekerja lepas dan buruh tanpa kontrak tetap. Gaji yang diterima pun sering kali tidak sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat. Argumen ini sebanding dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor informal. Pekerjaan-pekerjaan ini sering kali tidak memberikan jaminan masa depan yang layak. Hal ini mendorong para pencari kerja untuk beralih ke luar negeri guna mencari kesempatan yang lebih baik.

Dalam jurnal “Brain Drain and Its Impact on National Development” oleh Rizky Ananda (2022), dijelaskan bahwa kebijakan ekonomi dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Upah minimum yang rendah dan kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi indikator ketidakadilan ekonomi yang mendorong orang mencari peluang di luar negeri. Banyak generasi muda merasa masa depan lebih cerah di negara lain karena peluang kerja dan fasilitas yang lebih baik. Media sosial juga memperkuat fenomena ini, dengan influencer menunjukkan kehidupan sejahtera di luar negeri.

Hal ini menunjukkan bahwa tren #KaburAjaDulu bukan hanya sekadar fenomena di media sosial, tetapi juga cerminan dari masalah-masalah besar yang belum diselesaikan di Indonesia.
Fenomena #KaburAjaDulu menunjukkan dilema bagi banyak orang. Di satu sisi, mereka ingin mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Di sisi lain, mempertahankan sumber daya manusia berkualitas di dalam negeri tetap menjadi hal yang penting.

Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan menyediakan lebih banyak peluang di Indonesia agar masyarakat tidak merasa perlu “kabur” ke negara lain demi kesejahteraan. Hingga kini, banyak warga, terutama generasi muda, merasa bahwa kebijakan ekonomi dan sosial yang ada belum cukup untuk menjamin masa depan yang stabil. Upah minimum yang rendah, biaya hidup yang terus meningkat, serta akses terbatas terhadap pendidikan dan kesehatan berkualitas menjadi alasan utama mereka mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin