KAMIS kemarin, banyak umat Kristiani memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus dengan hening dan doa. Suasana gereja penuh, meski di beberapa negara, suara lonceng gereja terdengar di tengah mayoritas adzan yang berkumandang setiap harinya. Pemandangan ini mengingatkan kita bahwa keberagaman bisa tetap hidup, bahkan di tempat yang mungkin tidak kita sangka.
Indonesia, sebagai salah satu negara muslim terbesar, justru punya gereja terbanyak di antara negara mayoritas muslim. Data dari Goodstats, tercatat ada sekitar 76.1 ribu gereja berdiri di seluruh pelosok nusantara. Kehadiran gereja-gereja ini berdampingan dengan masjid-masjid, menjadi cermin kompleksitas sosial dan toleransi di negeri yang memegang teguh semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Nigeria menyusul di posisi kedua dengan sekitar 16.1 ribu gereja, meskipun mayoritas populasinya juga beragama Islam. Negara ini terbagi secara keagamaan. Utara didominasi Islam, selatan mayoritas Kristen. Meski begitu, banyaknya gereja menunjukkan kuatnya komunitas Kristiani di tengah dominasi muslim.
Di Timur Tengah, Mesir mencatatkan sekitar 3.4 ribu gereja meskipun lebih dari 90 persen penduduknya adalah muslim. Komunitas Kristen Koptik yang telah lama ada menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya Mesir.
Malaysia dan Pakistan, dua negara dengan populasi muslim di atas 60 persen, memiliki masing-masing sekitar 2.8 ribu dan 2.6 ribu gereja. Sementara Lebanon, meskipun kecil, menyimpan dinamika unik: dengan sekitar 2.400 gereja. Negara ini memiliki proporsi Kristen tertinggi di antara negara-negara mayoritas muslim, mencapai lebih dari 40 persen. Turki, negara sekuler dengan sejarah Kekaisaran Bizantium dan Ottoman, mencatatkan hanya sekitar 1.300 gereja yang masih berdiri
Data dari Goodstat ini memperlihatkan bahwa keberadaan gereja di negara-negara mayoritas muslim bukan sekadar angka. Data ini berbicara soal sejarah, koeksistensi dan dinamika identitas yang terus berkembang.
Keberagaman keyakinan di negeri-negeri ini, termasuk Indonesia, adalah kenyataan yang tak bisa disangkal. Ketika umat Kristiani memperingati hari besarnya di tengah lingkungan mayoritas muslim, itu bukan hanya soal peribadatan tapi juga tentang ruang yang tetap tersedia bagi iman yang berbeda. Di balik statistik dan persentase, ada wajah-wajah manusia yang hidup berdampingan, setiap hari.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin