AIR sungai yang keruh kini menjadi saksi bisu atas hilangnya kejayaan ikan-ikan lokal nusantara. Di bawah permukaan air, ribuan ikan berperisai keras terus bergerak tanpa henti menguasai setiap jengkal habitat asli yang kian terhimpit.
Populasi ikan sapu-sapu di Indonesia terus meningkat secara masif dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan melakukan operasi penangkapan dan penguburan massal pada Jumat, 17 April 2026 silam.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan sekitar 60 persen saluran air di Jakarta kini didominasi spesies ini. Ikan sapu-sapu tergolong ikan invasif karena mampu berkembang biak sangat cepat tanpa adanya predator alami.
Oleh karena itu, keberadaan mereka mengancam kelestarian ikan lokal akibat persaingan makanan dan kerusakan habitat yang parah.
Awal Mula Meluasnya Populasi Ikan Asal Amerika Selatan
Ikan sapu-sapu berasal dari wilayah Sungai Amazon di Amerika Selatan dan mulai masuk ke Indonesia tahun 1970-an. Awalnya, masyarakat mengimpor ikan ini melalui perdagangan ikan hias karena kemampuannya dalam membersihkan lumut akuarium.
Sayangnya, banyak pemilik melepaskan ikan ini ke sungai saat ukurannya membesar dan sulit dipelihara kembali. Keadaan tersebut menjadi titik awal penyebaran ikan sapu-sapu yang tidak terkendali di berbagai perairan tawar Indonesia. Spesies ini memiliki daya tahan tubuh sangat tinggi terhadap pencemaran air dan kadar oksigen rendah.
Pertumbuhan Ikan Eksotis di Sungai Ciliwung

Penelitian Reinventarisasi dan Analisis Laju dan Diversitas Ikan di Sungai Ciliwung (2025) menunjukkan pertumbuhan populasi ikan eksotis yang kian mengimbangi ikan asli. Para peneliti menemukan 748 individu ikan eksotis atau sekitar 49 persen dari total sampel di Sungai Ciliwung.
Meskipun temuan spesies ikan asli meningkat 26 persen, jumlah individunya mulai terdesak oleh kehadiran pendatang baru. Hal ini menandakan adanya tekanan besar terhadap keanekaragaman hayati asli yang sudah ada sejak lama. Pertumbuhan yang sangat cepat ini menjadi indikator menurunnya kualitas lingkungan sungai akibat dominasi spesies tertentu.
Selain itu, berdasarsan jurnal yang sama ikan sapu-sapu menempati posisi teratas sebagai spesies invasif paling dominan dengan jumlah temuan 287 ekor. Angka tersebut jauh melampaui ikan cere yang berada di posisi kedua dengan jumlah 189 ekor.
Ikan guppy menempati urutan ketiga sebanyak 118 ekor, diikuti oleh ikan platy sebanyak 51 ekor. Di samping itu, ikan nila tercatat sebanyak 34 ekor dan masih menunjukkan sifat kompetitif terhadap pakan ikan lokal.
Spesies lain seperti lele dumbo dan ikan mas ditemukan dalam jumlah yang relatif lebih sedikit.
Dampak Buruk Dominasi Ikan Invasif bagi Nelayan
Ikan sapu-sapu sering mendapat julukan sebagai hama karena merusak struktur tanah di dasar perairan secara sistematis. Mereka menggali lubang untuk membuat sarang sehingga memicu erosi dasar sungai dan mengganggu stabilitas lingkungan.
Spesies ini juga gemar memakan telur ikan lain yang berakibat pada terhambatnya regenerasi ikan lokal. Dampak ekonominya pun sangat buruk karena ikan ini tidak memiliki nilai jual tinggi bagi para nelayan. Nelayan sering merugi karena jaring mereka terisi ikan berkulit keras yang tidak laku dijual.
Jika kita terus membiarkan populasi ini, kita akan menurunkan keanekaragaman hayati perairan Indonesia secara drastis dan permanen. Kerusakan rantai makanan dapat mengubah struktur ekosistem sungai yang berujung pada hilangnya sumber protein alami bagi masyarakat.
Pemerintah perlu segera menangani masalah ini secara serius dengan memperketat pengawasan terhadap peredaran ikan berbahaya. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi agar tidak sembarangan melepas ikan hias ke perairan terbuka demi menjaga ekosistem. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin