SUARA tegas ayah yang menggema di ruang tamu seketika menghentikan langkah kecil si buah hati. Ketegangan menyelimuti suasana rumah saat sebuah aturan tak tertulis harus tegak berdiri demi membentuk karakter yang tahan banting.
Istilah parenting VOC kini sedang ramai diperbincangkan oleh banyak orang di media sosial. Pola asuh ini identik dengan disiplin tinggi serta aturan ketat yang cenderung kaku bagi anak. Parenting VOC merujuk pada gaya pengasuhan otoriter yang menuntut kepatuhan mutlak tanpa banyak kompromi.
Analogi ini muncul dari sistem perusahaan dagang Belanda yang terkenal sangat tegas dan penuh kontrol di masa lalu. Namun demikian, para ahli menilai gaya ini perlu penyesuaian agar tetap relevan dengan kebutuhan emosional anak modern.
Faktor Utama Pembentuk Pola Asuh Orang Tua

Gaya pengasuhan seseorang tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan pengalaman. Berdasarkan data survei Jakpat tahun 2025, pengalaman masa kecil orang tua menjadi faktor paling dominan dengan persentase 67 persen.
Hal ini berarti mayoritas orang tua cenderung mereplikasi cara mereka dibesarkan oleh kakek dan nenek terdahulu. Selain itu, nilai etika dan moral agama menyumbang pengaruh sebesar 60 persen dalam mendidik anak di Indonesia. Dari data ini ajaran agama tetap menjadi kompas utama bagi keluarga dalam menentukan standar perilaku yang baik.
Di samping itu, perkembangan informasi melalui media digital memberikan pengaruh yang cukup signifikan sebesar 57 persen. Konten parenting di media sosial mulai membentuk perspektif baru yang lebih terbuka bagi para orang tua muda.
Lingkungan sekitar dan budaya lokal juga berkontribusi sebesar 55 persen dalam memengaruhi keputusan pengasuhan anak. Sementara itu, literasi melalui buku parenting berada di posisi terakhir dengan angka pengaruh sebesar 41 persen.
Data ini menunjukkan bahwa pengalaman langsung dan tekanan sosial masih lebih kuat daripada teori dalam buku.
Kelebihan dan Kekurangan Pola Asuh yang Tegas
Gaya parenting VOC memiliki keunggulan dalam membentuk anak yang sangat disiplin dan taat pada aturan. Anak menjadi terbiasa dengan batasan yang jelas sehingga mereka lebih mudah memahami keteraturan dalam aktivitas harian. Selain itu, tuntutan yang konsisten membantu anak memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka ambil sejak dini.
Pola asuh ini juga mempersiapkan mental anak agar lebih siap menghadapi tekanan dunia nyata yang keras. Namun, orang tua harus memastikan bahwa ketegasan tersebut tetap memiliki penjelasan rasional agar anak tidak merasa tertekan.
Di sisi lain, pola asuh yang terlalu kaku memiliki risiko gangguan emosional yang tidak bisa kita abaikan. Anak cenderung mengikuti aturan karena rasa takut terhadap hukuman, bukan karena memahami nilai di baliknya. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya kepercayaan diri karena anak jarang mendapatkan ruang untuk mencoba hal baru.
Minimnya komunikasi dua arah juga berpotensi membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi sangat renggang. Dalam jangka panjang, kontrol yang berlebihan justru dapat memicu pemberontakan saat anak mulai memasuki usia remaja.
Pergeseran Menuju Gaya Pengasuhan yang Lebih Seimbang
Studi terbaru dari Kiddie Academy menunjukkan adanya tren baru di kalangan orang tua muda seperti Gen Z. Mereka mulai beralih ke gaya hybrid parenting yang menggabungkan ketegasan aturan dengan empati komunikasi yang hangat. Pendekatan ini tetap memberikan batasan yang jelas namun tidak mengabaikan kebutuhan emosional serta validasi perasaan anak.
Dengan cara ini, komunikasi berlangsung dua arah sehingga anak merasa didengar sekaligus tetap mendapatkan arahan yang benar. Orang tua kini lebih memilih untuk menjadi pelatih yang bijak daripada sekadar menjadi penguasa di rumah.
Oleh karena itu, kombinasi antara disiplin dan kasih sayang menjadi kunci utama dalam membesarkan anak di era digital. Anak tidak hanya belajar untuk patuh, tetapi juga belajar berpikir kritis mengenai alasan di balik sebuah aturan. Pendekatan yang empatik membantu membangun rasa tanggung jawab yang lahir dari kesadaran diri sendiri, bukan paksaan.
Dengan demikian, tantangan pengasuhan masa kini adalah menemukan keseimbangan agar anak tumbuh tangguh namun tetap sehat secara mental. Orang tua yang adaptif akan mampu mencetak generasi yang kompeten dan memiliki kecerdasan emosional yang baik. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin