29 MEI, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau. Bagi sebagian orang, tembakau adalah warisan budaya dan sumber penghidupan. Bagi yang lain, ia adalah ancaman kesehatan global yang tak kunjung padam.
Tembakau punya akar sejarah yang panjang di Indonesia. Tanaman ini dibawa oleh bangsa Eropa dan mulai dibudidayakan sejak abad ke-17. Seiring waktu, tembakau menjadi komoditas penting, terutama di wilayah seperti Jawa Timur dan Sumatera Utara.
Selama puluhan tahun, industri ini menopang ekonomi lokal, membuka lapangan kerja dan melahirkan budaya konsumsi yang kuat di masyarakat. Seiring meningkatnya kesadaran akan bahaya rokok, posisi tembakau mulai menjadi sorotan.
Meski banyak kritik soal dampak kesehatannya, industri rokok Indonesia masih punya pijakan ekonomi yang kuat. Berdasarkan data Companies Market Cap 2023, dua perusahaan asal Indonesia menembus daftar 10 besar produsen rokok global berdasarkan kapitalisasi pasar.
PT HM Sampoerna tercatat memiliki nilai pasar sebesar 6,69 miliar dolar AS, menempati posisi ke-8 dunia. Selain itu terdapat PT Gudang Garam berada di posisi ke-10 dengan nilai 3,12 miliar dolar AS. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain penting di industri tembakau dunia, sejajar dengan raksasa seperti Philip Morris, British American Tobacco dan Japan Tobacco.

Hari Tembakau Sedunia bukan hanya peringatan bahaya rokok, tapi juga kesempatan menghargai kualitas tembakau Indonesia yang diakui dunia. Dari lahan subur Nusantara, tumbuh tembakau dengan aroma khas dan cita rasa unik yang menjadi daya tarik global, terutama dalam bentuk kretek. Di balik kontroversi, tembakau Indonesia tetap kebanggaan komoditas unggulan dari kearifan lokal dan sejarah ekonomi bangsa.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin