MEMPERINGATI Hari Sepeda Sedunia tiap 3 Juni, tren sepeda listrik di kota besar Indonesia kian naik. Dari jalur sepeda Jakarta hingga gang Surabaya, sepeda listrik jadi pilihan ramah lingkungan yang nyaman dan efisien. Tak hanya alat olahraga, sepeda kini simbol gaya hidup urban yang cerdas dan sadar lingkungan.
Minat masyarakat terhadap sepeda listrik terlihat dari pertumbuhan penjualannya yang signifikan. Data dari Asosiasi Sepeda Listrik Indonesia mencatat, penjualan sepeda listrik di Tanah Air naik lebih dari 300 persen dalam kurun waktu 2020 hingga 2023.
Jika pada 2020 hanya sekitar 5.000 unit terjual, maka di tahun 2023 jumlahnya menembus 20.000 unit. Kenaikan ini dipicu tren hidup sehat, insentif pemerintah dan hadirnya merek lokal seperti United dan Selis dengan harga terjangkau. Sepeda listrik kini menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga, pekerja, hingga pelajar.
Meski sepeda listrik menjadi primadona masa kini, nilai-nilai yang dibawanya bukan hal baru. Sejak awal kemunculannya, sepeda telah menjadi simbol transportasi yang sehat, efisien, dan ramah lingkungan. Untuk memahami evolusi sepeda listrik, kita perlu menengok kembali sejarah panjang penuh inovasi yang melandasinya.
Perjalanan panjang sepeda bermula pada 1817 ketika Karl von Drais menciptakan draisine, alat kayu tanpa pedal yang digerakkan dengan kaki. Pada 1860-an, Pierre Michaux dan anaknya menambahkan pedal di roda depan, menciptakan velocipede yang masih terasa tidak nyaman karena bahannya yang keras. Pada 1870-an, penny-farthing dengan roda depan besar memungkinkan kecepatan lebih tinggi, tapi posisi duduk yang tinggi menyimpan risiko kecelakaan.
Titik balik terjadi pada 1885 ketika John Kemp Starley merancang “safety bicycle” dengan dua roda berukuran sama. Desain ini menggunakan penggerak rantai ke roda belakang dan menjadi cikal bakal sepeda modern yang aman serta stabil.
Memasuki abad ke-20, sepeda terus bertransformasi dengan material yang lebih ringan dan desain yang ergonomis. Pada 1970-an, sepeda gunung dan lipat hadir untuk kebutuhan medan khusus dan ruang perkotaan.
Kini, di abad ke-21, sepeda listrik dengan fitur pintar seperti GPS, sensor kesehatan, dan konektivitas digital menjadikan sepeda bagian dari gaya hidup teknologi. Di Indonesia, pengembangan sepeda listrik mulai dikenal luas sejak awal 2000-an. Saat ini pionir seperti merek lokal Selis yang mulai memproduksi sepeda listrik secara massal sejak 2011.


Setiap 3 Juni kita memperingati Hari Sepeda Sedunia. Ini saatnya menghargai perjalanan panjang sepeda sebagai alat transportasi sekaligus simbol kesehatan, inovasi, dan kesadaran lingkungan. Sepeda, dari yang sederhana hingga berteknologi tinggi, terus menginspirasi gaya hidup berkelanjutan di tengah dunia yang semakin cepat dan padat.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin