HARI ini, 19 Mei, dunia memperingati Hari Dokter Sedunia sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi para tenaga medis. Di balik senyum dan jas putih yang mereka kenakan, banyak dokter di Indonesia yang menghadapi tekanan berat yang jarang terlihat oleh publik.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan, jumlah dokter di Indonesia mengalami peningkatan dari 110.040 pada 2018 menjadi 183.694 pada 2023 . Meskipun demikian, rasio dokter terhadap jumlah penduduk masih rendah, yakni sekitar 0,7 per 1.000 penduduk, jauh di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merekomendasikan 1 dokter per 1.000 penduduk.

Kekurangan ini menyebabkan beban kerja yang tinggi bagi para dokter, terutama di daerah terpencil. Tekanan tersebut berkontribusi pada meningkatnya kasus kelelahan mental atau burnout di kalangan tenaga medis. Dilansir dari CNN, menunjukkan sekitar 83 persen tenaga kesehatan di Indonesia mengalami burnout sedang hingga berat selama pandemi.(Studi: 83 Persen Nakes Alami Burnout Sedang sampai Berat, CNN, 2025)
Burnout tidak hanya berdampak pada kesehatan mental dokter, tetapi juga dapat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan yang mereka berikan. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan prestasi pribadi. Jika tidak ditangani, burnout dapat mengarah pada depresi dan bahkan keinginan untuk meninggalkan profesi medis.
Pemerintah telah mengakui masalah ini dan berupaya meningkatkan jumlah dokter serta distribusinya ke seluruh wilayah Indonesia . Namun, upaya tersebut perlu diimbangi dengan perhatian serius terhadap kesehatan mental para tenaga medis. Program dukungan psikologis dan lingkungan kerja yang sehat menjadi kunci untuk memastikan dokter dapat menjalankan tugasnya dengan optimal.
Hari Dokter Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi momen untuk mengapresiasi jasa para dokter, tetapi juga sebagai pengingat bahwa mereka adalah manusia yang membutuhkan dukungan dan perhatian, terutama dalam menjaga kesehatan mental mereka.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin