DI BAWAH kekayaan alam, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menyimpan dilema. Ketergantungan pada sektor ekstraktif, seperti pertambangan, menghasilkan pemasukan besar. Namun, kekayaan ini tidak berkelanjutan.
Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kaltim masih menjadi penyumbang batubara utama nasional. Volume ekspor dari provinsi ini naik dari 210 juta ton pada 2023 menjadi 221,2 juta ton pada 2024. Meskipun demikian, nilainya justru turun 11,81 persen menjadi 16,5 miliar dolar AS. Data ini menegaskan bahwa sektor tambang sangat fluktuatif dan berisiko untuk perencanaan jangka panjang.

Berau Tentukan Arah Baru di RPJMD 2025-2029
Menyadari risiko fluktuasi komoditas ini, Pemkab Berau memilih jalan berbeda. Mereka fokus menggarap sektor non-pertambangan. Dilansir dari Berau Post (1/7/2025), Pemkab melakukan penyempurnaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029. Proses ini dilakukan melalui Musrenbang pada 30 Juni 2025.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, meminta seluruh OPD berfokus pada pembangunan sektor pariwisata. Hal ini sesuai dengan kebijakan masing-masing. Pasalnya, Berau ditetapkan sebagai kawasan pariwisata dalam RPJMD Nasional 2025-2029.
Bupati Sri menegaskan pergeseran ini harus menjadi perhatian bersama. Ini adalah pergeseran arah pembangunan berkelanjutan ke sektor non-pertambangan. Dalam rancangan RPJMD 2025-2029, Pemkab juga menyoroti sektor lain. Sektor seperti karet, kelapa dalam, dan kawasan swasembada pangan mendapat perhatian untuk kesejahteraan masyarakat.
Pariwisata dan Ekonomi Hijau Jadi Misi Utama
Dari sumber yangs sama, Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Berau, Endah Ernany Triariani, memaparkan fokus pembangunan. Isu strategis yang utama adalah transformasi menuju ekonomi hijau. Selanjutnya, mereka juga fokus pada pembangunan SDM, pengentasan kemiskinan, dan pemerataan infrastruktur.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, enam misi pembangunan daerah dirumuskan. Misi keenam menekankan penguatan sektor pariwisata dan UMKM sebagai pilar ekonomi daerah.
Proyeksi pendapatan daerah menunjukkan optimisme. Laju pertumbuhan ekonomi Berau diperkirakan mencapai 7,64 persen pada 2026 dan naik hingga 8,27 persen pada 2030. Proyeksi ini didasarkan pada investasi yang meningkat, dampak positif IKN, dan pulihnya sektor pariwisata.
Pembangunan Berau yang lebih merata dan berkelanjutan bukan hal yang mustahil. Endah menyebut, rancangan ini harus selaras dengan prioritas pembangunan nasional dan provinsi. Ini bukan hanya soal menyusun dokumen, tetapi menyusun arah masa depan Berau.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin