Bukan Cinta, Tapi Racun: 22,7 Persen Hubungan Toxic Terjadi di Keluarga dan Persahabatan

kaltimes.com
28 Feb 2025
Share

SURVEI JakPat menunjukkan bahwa hubungan toxic tidak hanya terjadi dalam percintaan. Fenomena ini juga banyak ditemukan dalam persahabatan dan keluarga. Contoh hubungan toxic meliputi manipulasi emosional, kontrol berlebihan, serta komunikasi yang penuh kritik.

Survei JakPat periode 15 November 2023 mencatat bahwa 64,3 persen responden mengalami hubungan toxic dalam percintaan. Namun, hubungan toxic juga ditemukan dalam keluarga (22,7 persen) dan persahabatan (14 persen). Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan yang didasarkan pada ikatan emosional yang kuat pun tidak kebal dari pola interaksi yang merusak.

Menurut jurnal Analisis Hubungan Keluarga yang Toxic oleh Sari et al. (2023), hubungan toxic dalam keluarga dapat muncul dalam bentuk tekanan berlebihan, ekspektasi yang menekan, serta komunikasi penuh kritik dan manipulasi. Studi ini menjelaskan bahwa individu dalam keluarga toxic sering mengalami hambatan dalam perkembangan diri akibat kurangnya dukungan dan adanya kontrol berlebihan terhadap kehidupan mereka.

Sebanyak 22,7 persen responden JakPat mengaku mengalami hubungan toxic dalam keluarga. Bentuknya beragam, mulai dari tekanan untuk memenuhi harapan orang tua hingga pola komunikasi yang tidak sehat. Studi dari Family Relations Journal (2018) menyoroti bahwa faktor budaya dan norma sosial yang kaku sering kali membuat korban sulit membatasi atau mengakhiri hubungan tersebut. Dampaknya bisa berlanjut hingga dewasa. Dampaknya bisa memengaruhi perkembangan emosional dan kepercayaan diri seseorang.

Data dari Komnas Perempuan tahun 2022 menunjukkan bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia mencapai lebih dari 10.000 laporan. Korban terbanyak adalah perempuan dan anak-anak, dengan bentuk kekerasan meliputi fisik, psikologis, dan verbal, seperti intimidasi, penghinaan, serta pengabaian emosional. Hal ini sejalan dengan temuan JakPat yang menyoroti pola komunikasi tidak sehat sebagai salah satu bentuk hubungan toxic dalam keluarga.

Selain itu, sebuah studi dari Journal of Interpersonal Violence (2020) mengungkap temuan menarik tentang dampak lingkungan keluarga toxic. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa 65 persen korban KDRT mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat di kemudian hari. Hal ini disebabkan oleh trauma yang mereka alami, yang dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain.

Persahabatan yang seharusnya menjadi sumber dukungan justru bisa berubah menjadi hubungan toxic. Survei JakPat menemukan bahwa ciri-ciri persahabatan toxic yang paling sering dialami responden adalah egois (63,2 persen), manipulasi (51,1 persen), dan kekerasan verbal (49,1 persen).

Jurnal Dampak Pertemanan Toxic terhadap Kesehatan Mental oleh Putra & Wijaya (2022) menyebutkan bahwa hubungan toxic dalam persahabatan sering ditandai dengan beberapa hal. Contohnya, kecemburuan, ketidakseimbangan, serta kontrol yang membatasi kebebasan individu. Studi ini juga menunjukkan bahwa pertemanan toxic dapat meningkatkan kecemasan dan depresi, yang berujung pada keinginan untuk menghindari kelompok sosial tertentu.

Persahabatan toxic sering kali sulit dikenali karena normalisasi perilaku seperti “bercanda kasar” atau “kritik yang menyakiti.” Padahal, hal tersebut dapat menimbulkan tekanan emosional jangka panjang bagi individu yang mengalaminya.

Survei JakPat menemukan bahwa 80,4 persen responden telah berhasil keluar dari hubungan toxic. Beberapa langkah yang mereka lakukan antara lain membatasi interaksi dengan individu tersebut (71,3 persen) serta menjaga kesehatan mental dan fisik (49,3 persen). Selain itu, ada yang memilih mendekatkan diri kepada Tuhan (47,8 persen) atau meluangkan waktu untuk diri sendiri (47,6 persen). Sebagian lainnya mencoba menjalin komunikasi dengan individu tersebut (24,7 persen) atau meminta bantuan dari teman maupun profesional (16,7 persen). Dalam beberapa kasus, ada juga yang mempertimbangkan perlindungan hukum (6,3 persen).

Hubungan toxic dalam persahabatan maupun keluarga dapat berdampak besar pada kesehatan mental. Kesadaran akan tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sangat penting agar individu dapat menghindari atau keluar dari situasi tersebut. Selain itu, dukungan dari lingkungan sekitar berperan dalam membantu korban memulihkan diri dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Namun, upaya untuk keluar dari hubungan toxic sering kali terhambat oleh faktor budaya dan norma sosial. Studi dari Family Relations Journal (2018) menyoroti bagaimana norma sosial yang kaku membuat korban sulit membatasi atau mengakhiri hubungan toxic dalam keluarga. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran tentang pola interaksi yang sehat serta memperluas akses ke layanan dukungan profesional menjadi langkah penting dalam mencegah dampak jangka panjang dari hubungan toxic.

Bagi mereka yang terjebak dalam lingkungan keluarga toxic, berbagai lembaga dapat memberikan bantuan. Komnas Perempuan menyediakan layanan pengaduan dan pendampingan bagi korban KDRT, sementara P2TP2A menawarkan konseling, perlindungan, serta bantuan hukum. Jika mengalami ancaman serius, korban dapat menghubungi Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) di kepolisian. Selain itu, organisasi seperti LBH APIK dan Yayasan Pulih menyediakan dukungan psikologis serta advokasi untuk membantu korban keluar dari situasi yang merugikan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin