Sumber foto: Turnamen Sumpit Kelas Dunia di Kalimantan – National Geographic
DI TENGAH derasnya olahraga modern, suara damek yang melesat ke sasaran menjadi pengingat bahwa warisan leluhur belum benar-benar hilang. Bukan sekadar lomba, namun upaya menjaga jati diri dan budaya yang hampir terlupakan.
Pada Sabtu, 14 Juni 2025, ratusan atlet olahraga tradisional sumpit dari berbagai wilayah di Kalimantan berkumpul di halaman Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur seperti. Mereka datang dari Bontang, Berau, Samarinda, Kutai Timur, hingga Kabupaten Malinau, untuk mengikuti latihan bersama sekaligus seleksi menuju Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS).
Dilansir Antara News, Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, menyebut kegiatan ini mempererat silaturahmi antar atlet. Ia juga menilai latihan bersama bisa menjauhkan generasi muda dari hal negatif seperti narkoba dan balapan liar. Kutai Timur disebut para peserta sebagai salah satu tempat terbaik untuk menyumpit, baik dari sisi fasilitas maupun penyelenggaraan.(Ratusan atlet olahraga sumpit se-Kalimantan latihan bersama di Kutim, Antara News, 2025)
Olahraga sumpit memiliki perjalanan panjang sebelum dikenal sebagai cabang resmi dalam FORNAS. Ribuan tahun lalu, sumpit digunakan oleh masyarakat Dayak sebagai alat berburu di hutan Kalimantan. Pada abad ke-16, penjelajah Antonio Pigafetta mencatat penggunaannya di Asia Tenggara.
Memasuki abad ke-20, sumpit perlahan bergeser dari senjata ke simbol budaya. Barulah di era 1980–1990-an, komunitas adat mulai mengadakan lomba menyumpit dalam berbagai perayaan tradisional.
Tahun 2000-an menjadi titik balik saat pemerintah daerah mulai mendorongnya sebagai olahraga rekreasi. Puncaknya, pada 2017 sumpit resmi menjadi salah satu cabang dalam FORNAS. Kini, pada Juni 2025, Kutim menjadi saksi hidup bagaimana tradisi itu tetap lestari dan berkembang.


Latihan bersama di Kutim bukan hanya soal ketepatan membidik, tapi juga ketepatan menjaga budaya. Dalam setiap tiupan damek, tersimpan semangat generasi muda yang tak ingin kehilangan jejak leluhurnya. Jika olahraga modern adalah masa kini, maka sumpit adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan bangsa.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin