Dari Layar ke Lemari: Barang-Barang yang Dibeli karena Drakor

kaltimes.com
13 Jun 2025
Share

SAAT menonton drama Korea, penonton sering tak sadar sedang “dibujuk” membeli sesuatu. Bukan lewat jeda iklan, tapi melalui momen ketika tokohnya menyeruput kopi kemasan, memakai lipstik tertentu, atau menikmati jajanan lokal. Semuanya mengalir begitu saja dalam cerita, halus tapi membekas.

Survei Jakpat pada 28–29 April 2025 melibatkan 1.211 responden penonton Indonesia. Hasilnya, iklan produk makanan dan minuman siap saji menjadi yang paling menarik perhatian, dengan persentase 51 persen. Diikuti oleh aksesori fesyen (48 persen), serta pakaian dan makanan kemasan yang masing-masing mencatat 47 persen.

Kosmetik dan produk perawatan kulit juga berhasil menarik perhatian penonton, dengan persentase sebesar 46 persen. Menariknya, makanan tradisional mendapat perhatian cukup besar, yaitu 45 persen, menunjukkan potensi promosi budaya lokal. 

Produk teknologi atau gawai yang digunakan tokoh turut diamati oleh 37 persen responden. Bahkan kendaraan yang muncul dalam cerita diperhatikan oleh 29 persen penonton. Iklan yang disisipkan secara lembut dalam alur cerita ini terbukti lebih efektif dibandingkan iklan langsung yang menginterupsi.

Menariknya, makanan dan minuman tradisional juga menarik perhatian penonton. Ini menunjukkan bahwa iklan bisa menjadi sarana memperkenalkan budaya. Lewat satu adegan makan atau dialog ringan, produk lokal bisa dikenal lebih luas, bahkan jadi tren. 

Formula ini bisa diterapkan dalam drama Indonesia dengan mengangkat produk atau budaya lokal secara alami. Promosi yang halus dan menyatu dalam cerita jauh lebih efektif daripada yang terlihat mencolok.

Pada akhirnya, penonton bukan tak suka iklan. Mereka hanya ingin diperlakukan dengan cerdas. Ketika promosi terasa seperti bagian dari kisah, bukan gangguan, pesan justru tersampaikan lebih kuat dan tak jarang, berujung di keranjang belanja.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin