MENCARI pekerjaan di Indonesia kini menjadi perjuangan yang penuh tantangan. Banyak pencari kerja menghadapi persaingan ketat dan keterbatasan lapangan kerja. Fenomena ini menciptakan tekanan yang luar biasa dalam upaya mereka meraih penghidupan yang layak.
Pada Selasa, 27 Mei 2025, kericuhan terjadi dalam acara “Job Fair Bekasi Pasti Kerja 2025” yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi di President University Convention Center, Jababeka, Cikarang Utara.
Dilansir Kumparan, sekitar 25.000 pencari kerja memadati lokasi untuk memperebutkan 2.517 lowongan dari 64 perusahaan. Kepadatan ini menyebabkan desak-desakan, beberapa peserta pingsan, dan situasi menjadi tidak terkendali.(https://kumparan.com/kumparanbisnis/job-fair-di-bekasi-diserbu-pelamar-hingga-rusuh-wamenaker-buka-suara-259hOEwN2uR/full, Kumparan, 2025)
Fenomena ini mencerminkan betapa tingginya tekanan pasar tenaga kerja di Indonesia saat ini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mencapai 4,76 persen. Nilai ini setara dengan 7,28 juta orang.
Berdasarkan data proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), tingkat pengangguran di Indonesia diperkirakan akan mencapai 5 persen pada akhir 2025. Angka ini menempatkan Indonesia sejajar dengan Mongolia dan Uzbekistan, serta menjadi salah satu dari lima negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di Asia, setelah Armenia (13,5 persen), Iran (9,5 persen), Turki (9,4 persen), dan Pakistan (8 persen).

Kericuhan dalam job fair di Bekasi menjadi cerminan nyata dari krisis lapangan kerja yang dihadapi Indonesia. Jumlah pencari kerja jauh melebihi lapangan kerja yang tersedia. Pemerintah dan sektor terkait perlu segera menciptakan lebih banyak peluang kerja yang layak dan berkelanjutan.(*)Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin