TIDAK sekadar ritual, Idul adha adalah momen berbagi dan mengingat pengorbanan. Setiap tahun, gema takbir disambut dengan derap langkah jamaah menuju lapak hewan kurban. Lantunan ini membawa harapan dan ketulusan yang tak bisa diukur dengan angka.
Esensi Idul adha bukan sekadar menyembelih hewan, tapi tentang memotong ego dan membagi berkah. Daging yang dibagikan menciptakan ruang kebersamaan antara yang mampu dan yang membutuhkan, antara tangan yang memberi dan hati yang bersyukur.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sapi tetap menjadi hewan kurban terpopuler. Pada 2020, jumlah sapi yang dikurbankan mencapai 960 ribu ekor. Angka ini sedikit menurun pada 2021 menjadi 915 ribu, dan kembali turun pada 2022 menjadi 868 ribu ekor.
Namun, pada 2023, terjadi kenaikan signifikan hingga 940 ribu ekor, sebelum turun tipis lagi di 2024 menjadi sekitar 926 ribu ekor. Meski mengalami fluktuasi, jumlah sapi yang dikurbankan tetap mendominasi dibanding jenis hewan lainnya.

Fluktuasi angka ini tak mengurangi makna pengorbanan yang terus hidup setiap tahunnya. Sapi masih jadi pilihan utama masyarakat untuk berkurban karena melambangkan kekuatan dan ketulusan. Selain ukurannya yang besar, sapi membawa makna pengorbanan yang dalam. Idul adha akan terus jadi pengingat, bahwa berbagi adalah jalan pulang paling damai bagi manusia.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin