DI TENGAH hiruk-pikuk zaman, Indonesia tetap memegang teguh nilai kedermawanan. Bukan sekadar membantu karena mampu, tapi karena merasa bertanggung jawab untuk peduli. Indonesia tak hanya kaya budaya, tapi juga kaya hati.
Fakta itu tak hanya dirasakan oleh warganya sendiri, tetapi juga diakui dunia. Berdasarkan laporan terbaru World Giving Index (WGI) tahun 2024 yang dirilis oleh Charities Aid Foundation (CAF), Indonesia kembali dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia. Laporan ini memotret kebiasaan filantropi di 142 negara berdasarkan tiga indikator utama: menyumbangkan uang, membantu orang asing dan menjadi sukarelawan.(Indonesia Jadi Negara Paling Dermawan di Dunia 2024, Ungguli 141 Negara Lain – GoodStats Data, GoodStat, 2024)
Hasilnya, sembilan dari sepuluh orang Indonesia menyumbangkan uang untuk amal. Lebih dari enam dari sepuluh juga meluangkan waktu untuk membantu sesama. Tak heran, Indonesia menduduki peringkat pertama dengan skor WGI sebesar 74. Nilai ini mengungguli Kenya (63) dan Singapura (61).

Ini bukan prestasi satu tahun saja. Sejak 2018, skor Indonesia terus meningkat. Dari 59 pada 2018–2019, melonjak menjadi 69 pada 2020–2021, sedikit turun menjadi 68 di 2022, namun tetap konsisten memuncaki daftar.
Sebagai pemuncak daftar, performa Indonesia jauh melampaui rata-rata global. Sekitar 73 persen penduduk dunia terlibat dalam kegiatan filantropi. Seperti, mereka menyumbang uang, menjadi relawan, atau membantu orang asing dalam kehidupan sehari-hari.
Namun angka ini masih tertinggal dibanding partisipasi warga Indonesia yang luar biasa tingginya. Misalnya, Kenya dan Liberia peduli terhadap sesama, tapi kontribusi Indonesia dalam donasi dan kerelawanan tetap unggul. Kedermawanan Indonesia bukan hanya angka di atas kertas, tapi refleksi nyata dari budaya yang dilihat dan diakui oleh dunia.
Kedermawanan bangsa ini berakar dari nilai sosial dan religius yang kuat dalam masyarakat. Dalam ajaran agama mayoritas di Indonesia, memberi adalah kewajiban. Konsep zakat, infak, dan sedekah tertanam kuat, tidak hanya dalam ritual keagamaan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Di luar itu, nilai gotong royong yang diwariskan turun-temurun menciptakan budaya tolong-menolong yang melekat. Orang Indonesia terbiasa membantu tetangga tanpa diminta, ikut kerja bakti, atau memberi waktu dan tenaga tanpa pamrih. Nilai-nilai ini menjadikan kemurahan hati sebagai kebiasaan, bukan hanya reaksi sesaat.
Meski banyak tantangan sosial dan ekonomi, Indonesia tetap jadi negara paling dermawan. Nilai luhur masyarakatnya tetap menjadi kekuatan utama. Kedermawanan bukan hanya soal memberi. Ia adalah wujud nyata semangat persatuan dan kepedulian kita sebagai bangsa.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin