Satu Dunia Maya, Dua Wajah: Ketika Satu Akun Tak Lagi Cukup

kaltimes.com
23 Mei 2025
Share

DI ERA digital, menjadi diri sendiri tak selalu semudah kedengarannya. Kadang satu akun saja tak cukup untuk menampung semua sisi yang ingin kita tunjukkan. Maka muncullah fenomena dua wajah dalam satu dunia maya. Satu untuk dilihat semua orang, satu lagi untuk hal-hal yang tak ingin diketahui siapa-siapa.

Menurut survei Jakpat terhadap 989 responden pada Oktober 2022, mayoritas pengguna media sosial yang memiliki lebih dari satu akun melakukannya untuk keperluan pribadi. Persentasenya sangat tinggi, mencapai 86,5 persen. Artinya, bagi banyak orang, satu akun utama saja belum cukup untuk mengekspresikan diri secara utuh.(Terungkap Alasan Orang Memiliki Second Account di Media Sosial – Jakpat Responden Info, Jakpat, 2022)

Di sisi lain, 42,5 persen responden memanfaatkan akun kedua untuk menjalankan bisnis. Akun ini biasanya digunakan untuk memisahkan aktivitas jual beli dari kehidupan pribadi. Hal ini bagus untuk terlihat lebih profesional atau sekadar menjaga kenyamanan interaksi.

Sebanyak 35,6 persen lainnya menjadikan akun kedua sebagai galeri foto. Akun ini berfungsi seperti arsip digital pribadi dengan memori tak terbatas. Cocok untuk tempat menyimpan kenangan tanpa harus dibagikan ke semua orang.

Menariknya, 32,3 persen menggunakan akun tambahan untuk mengamati orang lain secara diam-diam. Biasa dikenal dengan istilah stalking. Ini menunjukkan sisi lain media sosial sebagai ruang untuk melihat tanpa terlihat.

Yang cukup mencengangkan, ada pula 20,7 persen yang menggunakan akun kedua agar bisa berkomentar tanpa identitas mereka diketahui. Ini membuka pertanyaan besar soal batas antara kebebasan berekspresi dan anonimitas di dunia maya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi, tapi juga ruang strategi. Ketika eksistensi dan privasi saling tarik-menarik, banyak orang memilih membuat dua identitas digital demi menjaga kendali atas apa yang ingin ditampilkan dan disembunyikan.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin