MENJELANG bulan Ramadan, perilaku belanja masyarakat Indonesia mengalami peningkatan signifikan akibat kebutuhan khusus selama bulan puasa, seperti persiapan sahur, berbuka dan Hari Raya Idulfitri. Hasil dari survei Jakpat diakses 13.52 Wita, 27 Februari 2025, terhadap 1.054 responden periode Januari 2025 mengungkapkan bahwa mayoritas laki-laki (93 persen) dan perempuan (90 persen) menjadikan pakaian sebagai prioritas utama dalam belanja mereka.
Kemudian, 70 persen laki-laki dan 65 persen perempuan juga menempatkan perlengkapan ibadah sebagai kebutuhan utama. Selain kedua kategori tersebut, terdapat perbedaan preferensi belanja antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa produk, seperti aksesori, skincare, gawai, dan perabot rumah tangga.

Selain perbedaan daftar belanja, tren menunjukkan peningkatan anggaran selama Ramadan. Laporan “Ramadan 2025 at a Glance” yang dirilis pada Desember 2024 mencatat bahwa 50 persen konsumen Indonesia berencana meningkatkan anggaran belanja mereka dibandingkan tahun 2024.
Kenaikan ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti peningkatan harga kebutuhan pokok; promosi besar-besaran dari e-commerce; serta dorongan budaya untuk berbagi dan memberikan hadiah. Sebanyak 1 dari 2 konsumen diperkirakan membelanjakan lebih dari Rp 3 juta sepanjang Ramadan, baik untuk kebutuhan rumah tangga, makanan, maupun pakaian. Lonjakan pengeluaran ini juga dipengaruhi oleh bonus tahunan dan tunjangan hari raya (THR) yang mendorong daya beli masyarakat menjelang Idulfitri.
Data dari YouGov pada 2023 menunjukkan bahwa permintaan selama Ramadan meningkat pada beberapa kategori utama. Contohnya, makanan dan minuman mengalami lonjakan sebesar 43 persen. Selanjutnya diikuti fashion dan aksesori (27 persen), serta produk kecantikan dan perawatan pribadi (20 persen).
Untuk mengoptimalkan peluang ini, penjual perlu memastikan ketersediaan stok dan menerapkan strategi pemasaran yang tepat. Strategi tersebut meliputi diskon khusus, promo bundling atau cashback yang bertepatan dengan pemberian THR guna mendorong daya beli masyarakat.
Berdasarkan sumber yang sama, Ramadan erat kaitannya dengan semangat berbagi. Penjual dapat menerapkan program “Belanja Sambil Donasi,” di mana sebagian keuntungan disalurkan ke panti asuhan atau masyarakat kurang mampu. Program ini menarik konsumen serta meningkatkan loyalitas pelanggan melalui transparansi donasi, seperti laporan real-time.
Selain itu, pola belanja online selama Ramadan mengalami pergeseran dengan lonjakan transaksi pada tiga periode utama, yakni saat sahur (04.00 – 05.00 WIB); setelah berbuka puasa (19.00 – 21.00 WIB) dan tengah malam (00.00 WIB) (Tokopedia, 2024). Penjual dapat memanfaatkan tren ini dengan mengadakan flash sale atau diskon eksklusif pada jam-jam tersebut untuk meningkatkan konversi penjualan. Sesi live shopping interaktif bisa menjadi strategi efektif jika dikemas dengan storytelling menarik, seperti “Fashion Lookbook Lebaran”.
Namun, meningkatnya konsumsi selama Ramadan juga memiliki dampak negatif, terutama dalam mendorong perilaku konsumtif yang berlebihan. Studi dari Bank Indonesia dengan judul Tren Konsumsi Masyarakat Indonesia Selama Ramadan (2024) mencatat bahwa 60 persen masyarakat mengalami peningkatan pengeluaran yang tidak terencana akibat berbagai promosi dan tren belanja impulsif. Konsumsi berlebihan ini tidak hanya berisiko terhadap kondisi finansial individu, tetapi juga mendorong pemborosan dan penumpukan barang yang tidak selalu diperlukan.
Tren belanja Ramadan meningkat signifikan dalam konsumsi dan pengeluaran karena kebutuhan khusus, promosi e-commerce dan dorongan budaya. Meskipun menguntungkan bagi pelaku usaha, peningkatan ini juga memicu perilaku konsumtif berlebihan dan pemborosan. Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk lebih bijak dalam berbelanja, sementara pelaku usaha dapat mengadopsi strategi yang mendukung keberlanjutan serta kepedulian sosial. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin