Gen Z Paling Sadar Kesehatan Mental tapi Justru Paling Rentan Depresi

kaltimes.com
20 Feb 2025
Share

DEPRESI menjadi salah satu isu kesehatan mental yang mendesak di Indonesia, dengan banyaknya individu yang mengalami dampaknya terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku. Ironisnya, masih banyak penderita yang enggan mencari bantuan akibat stigma sosial dan kurangnya kesadaran. Sementara itu, pemerintah terus berupaya memperluas edukasi dan akses layanan kesehatan mental.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi depresi nasional sebesar 1,4 persen, atau sekitar 1–2 dari 100 orang di Indonesia mengalami depresi. Prevalensi ini menggambarkan persentase penduduk yang mengalami depresi dalam periode tertentu. Data SKI juga mencatat bahwa Kalimantan Timur memiliki prevalensi depresi sebesar 2,2 persen. Nilai ini berarti lebih dari 2 dari 100 orang di wilayah tersebut terdampak. Nilai ini tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Barat (3,3 persen). Angka ini menunjukkan bahwa tingkat depresi di Kalimantan Timur lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Meski angka ini cukup tinggi, namun akses layanan kesehatan mental di Kalimantan Timur masih terbatas.

Pada 2024, Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia mencatat terdapat 4.109 psikolog klinis di seluruh Indonesia, namun distribusinya tidak merata. Kalimantan Timur hanya memiliki 89 psikolog klinis. Hal ini menempatkannya di peringkat kesepuluh dalam jumlah psikolog terbanyak. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa tingginya prevalensi depresi tidak sebanding dengan ketersediaan tenaga profesional yang dapat memberikan layanan kesehatan mental.

Dari sisi kelompok usia, generasi muda, khususnya Gen Z (kelahiran 1997-2012), menjadi yang paling rentan mengalami depresi. Berdasarkan data dari SKI 2023, prevalensi depresi pada Gen Z di Indonesia mencapai 2 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi generasi milenial (kelahiran 1981-1996) sebesar 1,7 persen; generasi X (kelahiran 1965-1980) sebesar 1,2 persen; dan baby boomers (kelahiran 1946-1964) sebesar 0,8 persen. Tingginya angka ini menunjukkan perlunya pemahaman lebih dalam mengenai faktor pemicu depresi pada Gen Z.

Survei Jakpat yang dilakukan pada Desember 2024 terhadap 1.037 responden Gen Z yang mengalami masalah kesehatan mental mengungkapkan lima faktor utama penyebabnya. Kekhawatiran tentang masa depan menjadi faktor terbesar (60 persen), diikuti oleh masalah keuangan (57 persen), tekanan sosial akibat media sosial (41 persen), ketidakmampuan mengendalikan situasi (38 persen), serta tumpukan pekerjaan atau tugas (31 persen).

Pandangan bahwa Gen Z lebih rentan terhadap stres dibandingkan generasi sebelumnya juga diperkuat oleh laporan The Wall Street Journal (Jennifer Breheny Wallace, 2019). Banyak orang menilai Gen Z kurang mampu menghadapi tekanan hidup. Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang dianggap lebih tahan banting. Salah satu alasan munculnya anggapan ini adalah kecenderungan Gen Z untuk lebih terbuka dalam membicarakan masalah mental.

Tindakan ini dianggap oleh generasi sebelumnya sebagai tanda kelemahan. Selain itu, Gen Z lebih memilih lingkungan kerja yang nyaman dan fleksibel. Masih dari sumber yang sama disebutkan, Gen Z tidak ragu untuk mengundurkan diri jika merasa tertekan. Hal ini berlawanan dengan generasi sebelumnya yang cenderung bertahan dalam kondisi sulit.

Namun, perbedaan ini memicu perdebatan apakah Gen Z benar-benar lebih lemah atau justru lebih sadar akan kesehatan mental. Penelitian Twenge et al. (2017) dalam Clinical Psychological Science menunjukkan bahwa meskipun prevalensi gangguan mental lebih tinggi, Gen Z lebih proaktif dalam mengatasi masalah kesehatan mental dibandingkan generasi X atau baby boomers yang cenderung menutup diri. Dalam konteks ini, mungkin lebih tepat melihat Gen Z sebagai generasi yang lebih peduli terhadap kesehatan mental, bukan sebagai generasi yang lebih lemah.

Minimnya tenaga profesional kesehatan mental menunjukkan bahwa kesehatan jiwa masih kurang mendapat perhatian. Pemerintah harus memperbaiki distribusi tenaga kesehatan agar lebih merata, terutama di daerah dengan prevalensi depresi tinggi. Tanpa infrastruktur yang memadai, peningkatan kesadaran kesehatan mental tidak akan efektif.

Di sisi lain, persepsi bahwa Gen Z adalah generasi yang lemah seharusnya ditinjau kembali. Sikap mereka yang lebih terbuka terhadap kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran akan pentingnya kesejahteraan psikologis. Generasi sebelumnya perlu memahami bahwa standar ketahanan mental telah berubah seiring perkembangan zaman. Adaptasi dan pemahaman terhadap perbedaan ini akan lebih bermanfaat daripada sekadar membandingkan generasi dengan cara pandang yang usang. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin