Ekonomi Sulit, Gen Z Pilih Tunda Adopsi Hewan Demi Jaga Stabilitas Dompet

kaltimes.com
14 Mei 2026
Share

KEINGINAN mengelus bulu halus kucing sering kali tertahan oleh bayang-bayang tanggung jawab besar di masa depan. Suara gonggongan anjing yang ceria pun terkadang hanya menjadi impian karena keterbatasan ruang di tengah sempitnya hunian kota.

Memelihara hewan sebenarnya memberikan dampak positif yang sangat signifikan bagi kesehatan fisik serta mental manusia. Aktivitas ini mampu mengurangi stres, menurunkan tekanan darah, hingga meningkatkan aktivitas fisik pemiliknya secara rutin.

Namun demikian, tidak semua orang merasa siap untuk menghadirkan kawan setia tersebut di dalam rumah mereka. Berdasarkan survei Jakpat (14/05/2026), terdapat berbagai alasan yang membuat publik Indonesia masih enggan memiliki hewan peliharaan saat ini.

Keraguan Komitmen dan Kendala Hunian Sempit

Mayoritas publik Indonesia mengaku ragu untuk memelihara hewan karena faktor tanggung jawab merawatnya dengan proporsi 44 persen. Kelompok Gen Z mendominasi perasaan ragu ini karena mereka sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan komitmen jangka panjang.

Selain faktor internal, masalah logistik berupa lahan hunian yang sangat terbatas menjadi sorotan bagi 39 persen responden. Mereka merasa tempat tinggal saat ini terlalu kecil sehingga hewan tidak memiliki ruang gerak yang layak.

Keterbatasan ruang hunian ini menjadi keluhan utama bagi kalangan masyarakat dari golongan Gen X. Kondisi rumah yang sempit memang menyulitkan pemilik untuk menyediakan fasilitas pendukung bagi kesejahteraan hewan peliharaan mereka.

Hambatan Finansial dan Aturan Tempat Tinggal

Aspek ekonomi juga tetap menjadi ganjalan utama bagi 37 persen publik di tanah air. Kelompok Gen Z kembali mendominasi kategori ini dengan alasan belum memiliki kecukupan finansial untuk biaya pakan.

Mereka juga mengkhawatirkan biaya kesehatan serta perawatan rutin yang cukup menguras kantong setiap bulannya. Kekhawatiran ini membuat banyak anak muda memilih menunda keinginan mereka untuk mengadopsi hewan kesayangan.

Di samping itu, sebanyak 15 persen responden menghadapi kendala eksternal berupa larangan memelihara hewan di tempat tinggal mereka. Golongan Gen Z kembali menjadi kelompok yang paling banyak merasakan hambatan aturan tempat tinggal atau apartemen tersebut.

Riset Pemilihan Jenis Hewan dan Izin Keluarga

Menariknya, sebanyak 13 persen responden sebenarnya sudah memiliki niat kuat untuk memelihara hewan peliharaan. Kelompok yang mayoritasnya berasal dari kaum Milenial ini masih berada dalam tahap riset mendalam.

Mereka sedang memilih jenis hewan yang paling cocok dengan gaya hidup serta jadwal kerja harian mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keinginan memelihara tetap ada namun mereka butuh kecocokan yang tepat.

Faktor izin dari keluarga juga menjadi alasan bagi 13 persen publik lainnya untuk menunda keinginan tersebut. Kelompok Gen Z lagi-lagi mendominasi alasan ini karena mereka masih tinggal bersama orang tua atau pasangan.

Pentingnya Kesiapan Mental dan Lingkungan

Kenyataan ini selaras dengan penelitian Nancy R. Gee, dkk (2021) dalam jurnal Frontiers in Veterinary Science berjudul “The Impact of Companion Animals on Human Health and Quality of Life: A Systematic Review”.

Jurnal tersebut menjelaskan bahwa memelihara hewan memang memberi manfaat emosional namun membutuhkan komitmen biaya serta perhatian besar. Banyak calon pemilik menunda adopsi karena khawatir tidak mampu memenuhi standar kesejahteraan hewan.

Faktor gaya hidup modern perkotaan juga menjadi hambatan utama kepemilikan hewan, khususnya pada kelompok usia muda. Oleh karena itu, kesiapan lingkungan dan finansial menjadi fondasi utama sebelum memutuskan untuk mengadopsi hewan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin