TERIK matahari yang menyengat mulai terasa menusuk kulit sejak pagi hari di wilayah Kalimantan Timur. Aspal jalanan yang mengeluarkan uap panas menjadi pemandangan sehari-hari yang menguji kesabaran warga saat beraktivitas.
Berdasarkan data BMKG, wilayah Kalimantan Timur akan memasuki awal musim kemarau pada Juni 2026 mendatang. Meskipun saat ini masih dalam masa transisi, panas matahari sudah terasa sangat menyengat sejak bulan April. Curah hujan diprediksi mulai berkurang secara signifikan saat memasuki bulan Mei.
Puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan akan terjadi pada bulan Agustus 2026. Fenomena suhu tinggi ini mengingatkan pada sejarah catatan suhu paling ekstrem di berbagai kota Indonesia.
Catatan Suhu Udara Paling Ekstrem di Indonesia

Dilansir Tirto (13/4/2026), Larantuka di Flores Timur masih memegang rekor sebagai kota paling panas dalam sejarah Indonesia. Pada 5 September 2012, suhu udara di wilayah tersebut menembus angka ekstrem hingga 40 derajat Celsius. Posisi kedua ditempati oleh Kota Samarinda dan Semarang yang mencatatkan suhu serupa pada tahun 2019. Kedua kota tersebut pernah mencapai suhu maksimal 39,4 derajat Celsius saat musim kemarau melanda.
Selain itu, Kota Kupang juga pernah mengalami panas yang luar biasa mencapai 39 derajat Celsius pada September 2021. Selanjutnya, wilayah Majalengka menyusul dengan catatan suhu udara sebesar 38,3 derajat Celsius pada Oktober 2023.
Rentetan angka ini menunjukkan bahwa ancaman suhu ekstrem nyata terjadi dan terus berulang di berbagai daerah. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan panas matahari yang berlebihan.
Penyebab Geografis dan Dampak El Nino
Indonesia khusunya pulau kalimantan memiliki suhu yang cenderung panas karena lokasinya berada tepat di garis khatulistiwa. Intensitas paparan sinar matahari di wilayah ini sangat tinggi hampir sepanjang tahun tanpa henti. Berdasarkan studi Dany Perwita Sari (2021) berjudul A Review of How Building Mitigates the Urban Heat Island in Indonesia and Tropical Cities, posisi ini memicu radiasi maksimum. Hal ini menyebabkan suhu udara tetap stabil namun terasa sangat lembap dan panas.
Di samping itu, fenomena El Nino memperburuk kondisi panas dengan menurunkan curah hujan secara drastis. Berdasarkan riset Ida Bagus Mandhara Brasika (2022) dalam The Role of El Nino Variability and Peatland in Burnt Area and Emitted Carbon in Forest Fire Modeling, musim kemarau menjadi lebih panjang.
Tanah kehilangan kemampuan menyimpan air sehingga efek pendinginan alami dari permukaan bumi berkurang secara signifikan. Akibatnya, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat seiring dengan kenaikan suhu udara lokal.
Dampak Aktivitas Tambang Terhadap Suhu Lokal
Aktivitas tambang batu bara turut memperkuat efek panas melalui perubahan bentang alam secara masif. Berdasarkan penelitian Alpina Damayanti, dkk (2025) berjudul Analysis of The Effect of Land Use Change Using Random Forest Algorithm on Surface Temperature and Its Relationship With Urban Heat Island Phenomenon, pembukaan lahan luas menyerap radiasi matahari lebih besar.
Hilangnya vegetasi hutan membuat suhu lokal meningkat karena tidak ada lagi pelindung alami dari sinar matahari langsung. Debu tambang yang beterbangan juga memperburuk kualitas udara di sekitar wilayah pemukiman warga.
Oleh karena itu, berkurangnya air tanah akibat pertambangan menghilangkan kelembapan yang berfungsi sebagai pendingin alami. Perubahan penggunaan lahan ini berkorelasi langsung dengan fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island. Menjaga kelestarian hutan merupakan satu-satunya cara untuk meredam amukan cuaca ekstrem di masa depan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin