ORANG Indonesia punya semboyan, “rasanya belum makan kalau belum ketemu nasi.” Nasi bukan sekadar makanan, nasi adalah kedaulatan pangan di atas meja. Namun di Kalimantan Timur, kedaulatan itu goyah. Pasokan beras lokal tak lagi cukup menutupi kebutuhan warganya.
Artinya, tiap piring nasi di Kaltim kini makin bergantung pada daerah lain. Permintaan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Misalnya, data mencatat konsumsi beras Kaltim mencapai 312 ribu ton di tahun 2023. Padahal, produksi berasnya hanya 132 ribu ton di tahun yang sama. Hal ini memperburuk kesenjangan antara produksi dan kebutuhan lokal. Faktanya, Kalimantan Timur mengandalkan pasokan beras dari Sulawesi dan Jawa untuk menutup kekurangan.
Defisit Produksi Padi Kaltim Semakin Lebar
Data ini memperlihatkan produksi beras lokal tidak mampu menutupi kebutuhan. Kesenjangan ini menciptakan defisit pangan yang signifikan.
| Tahun | Produksi (Ton) | Kebutuhan Konsumsi (Ton) | Defisit (Ton) |
| 2020 | 152.649,84 | 308.467,76 | 155.817,92 |
| 2023 | 132.022,44 | 312.779,20 | 180.756,76 |

Penyusutan Lahan Sawah Mengancam Produksi
Dalam empat tahun terakhir, lebih dari sepuluh ribu hektare sawah di Kaltim lenyap dari peta pertanian. Banyak lahan berganti menjadi kawasan industri dan perkebunan skala besar.
Penyebab utama defisit ini adalah hilangnya luasan sawah. Data BPS menunjukkan luas panen padi di Kaltim mengalami penyusutan drastis. Luasan sawah berkurang 10.527 hektare dari 73.568 hektare pada 2020. Luas panen tersisa 63.041 hektare di tahun 2024. Penurunan paling tajam terjadi pada periode 2020 hingga 2023.

Penurunan luas panen tersebut berdampak langsung pada produksi padi. Produksi turun dari 262.435 ton di 2020 menjadi 249.643 ton di 2024. Meskipun produktivitas cenderung stagnan di angka 3,96 ton per hektare, lahan sawah terus menghilang.
Saat Sawit Menggeser Padi di Kaltim

Penyusutan lahan pangan terjadi bersamaan dengan meningkatnya dominasi perkebunan di Kaltim. Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim 2025-2029, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB terus tertekan. Tekanan ini terjadi karena nilai sektor pertambangan kembali melonjak sejak 2021.
Namun, di dalam sektor pertanian itu sendiri, terjadi ketimpangan. Walau pertanian menyumbang hampir 9 persen ekonomi Kaltim pada 2024, sebagian besar berasal dari perkebunan. Sebagian besar pertumbuhan itu datang dari kelapa sawit, bukan dari padi.
Angka-angka memperlihatkan betapa timpangnya keseimbangan pertanian di Kaltim. Total produksi kelapa sawit mencapai lebih dari 18,66 juta ton pada 2024. Nilai ini jauh melampaui seluruh hasil pangan lokal lainnya.
Produksi sawit di Kutai Timur bahkan mencapai 7,75 juta ton, mengalahkan total produksi padi Kaltim secara nilai ekonomi. Kelapa sawit kian mendominasi, membuat pertanian pangan perlahan tersisih dari peta ekonomi dan lahan daerah.
Padi, yang dulu menjadi simbol ketahanan pangan, kini kalah oleh komoditas ekspor yang rakus lahan.
Kesenjangan Sektor dan Ancaman Pangan
Kaltim kini dihadapkan pada pilihan sulit: terus bergantung pada pasokan luar daerah atau memulihkan lahan sawah yang tersisa. Jika tidak, nasi di meja makan bisa semakin jauh dari tanah sendiri.
Persaingan lahan kian tak seimbang. Investasi besar di sektor non-pangan, terutama perkebunan sawit, terus menekan ruang bagi pertanian pangan. Alih fungsi lahan ini mengikis sawah produktif dan memperlebar defisit beras.
Sawit kian mendominasi, menyingkirkan pangan dari peta ekonomi dan lahan Kaltim.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin