KINI, sepatu lari lebih penting daripada sepatu kantor. Lari bukan lagi hobi musiman, tetapi kebutuhan mendasar. Namun, di Bumi Batiwakkal, semangat sehat warga masih terganjal infrastruktur.
Jogging telah menjadi olahraga terfavorit masyarakat Indonesia. Data dari Populix menunjukkan dominasi ini. Lari menempati urutan teratas dengan 44 persen responden. Wajar saja, olahraga ini sangat fleksibel. Ia tidak membutuhkan peralatan khusus. Bahkan, seseorang dapat melakukannya kapan dan di mana saja. Selain itu, olahraga non-lapangan menawarkan solusi bagi mereka yang memiliki waktu terbatas. Kategori ini meliputi bersepeda (32 persen), renang (27 persen), dan gym (26 persen).

KONI Berau Desak Penyediaan Jogging Track
Melihat tingginya minat warga, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Berau mendesak pemerintah daerah. Dilansir dari Berau Post (19/7/2025), KONI mengajak Pemkab serius menyediakan sarana olahraga yang layak dan mudah diakses.
Ketua Harian KONI Berau, Arman Nofriansyah, menuturkan dorongan ini mendesak. Pasalnya, minat warga terhadap aktivitas ringan seperti jogging terus meningkat. Sayangnya, infrastruktur publik yang khusus mendukung aktivitas tersebut belum ada. Warga pun tidak bisa berolahraga dengan nyaman dan aman.
Arman menjelaskan, tersedianya ruang olahraga seperti jogging track punya dua manfaat. Pertama, fasilitas ini mendukung gaya hidup sehat. Kedua, ia menjadi bagian dari pembinaan olahraga jangka panjang. Fasilitas ini penting bagi semua kalangan usia. Jelasnya, jika tersedia, masyarakat tidak perlu lagi menggunakan trotoar atau jalan raya yang membahayakan.
Komunitas Lari Terpaksa di Trotoar
Pegiat olahraga lokal langsung mendukung tuntutan KONI ini. Dilansir dari Berau Post (5/8/2025) , Yudi Rizal, Ketua Cabang Olahraga Triatlon Berau, dan Jeffry Julian dari komunitas Running RunDus, sepakat. Hingga kini, Berau belum membangun satu pun running track representatif.
Jeffry Julian dan komunitasnya kerap memakai halaman Masjid Agung sebagai lintasan alternatif. Mereka bahkan tidak jarang berlari menyusuri trotoar. Area ini tidak dirancang untuk berolahraga dan menimbulkan risiko. Oleh sebab itu, fasilitas yang memadai belum memfasilitasi semangat hidup sehat masyarakat.
Lapangan Batiwakkal di jantung Kota Tanjung Redeb sebenarnya menyimpan potensi besar. Kawasan ini sudah lama menarik minat warga sebagai ruang publik favorit. Jika Pemkab menata kawasan ini dengan baik, Lapangan Batiwakkal bisa berubah menjadi pusat aktivitas olahraga masyarakat Berau.
Track Lari Jadi Investasi Sosial
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Berau, Amiruddin, merespons permintaan ini. Ia mengatakan, Pemkab memasukkan pembangunan jogging track ke dalam rencana pemerintah daerah. Dilansir dari Berau Post (21/7/2025), Pemda Berau, melalui Dispora, menanggapi permintaan masyarakat dan KONI. Pemda berencana membenahi dan membangun jogging track yang lebih baik di Lapangan Batiwakkal dan fasilitas lainnya.
Dispora menargetkan perencanaan ini dapat masuk pada APBD Murni 2026. Selanjutnya, pembangunan fisik menjadi target pada perubahan APBD 2026. Namun demikian, realisasi memerlukan dukungan penuh dari DPRD dan semua pihak terkait. Amiruddin menyebut, mereka masih menunggu kondisi keuangan daerah normal.
Pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan investasi sosial dan ekonomi. Ruang sehat dapat memicu geliat ekonomi lokal. Aktivitas masyarakat berolahraga menciptakan keramaian yang mendatangkan manfaat bagi pelaku UMKM.
Warga Berau sudah berlari. Komunitas sudah bergerak. Kini, Pemkab harus menunjukkan keberanian menerjemahkan semangat itu ke dalam kebijakan nyata. Kota yang hebat harus dibangun dari ruang-ruang hidup yang membuat warganya tumbuh, bergerak, dan bahagia.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin