Kalimantan Timur Torehkan 47,9 Poin dalam Indeks Digital Nasional

kaltimes.com
28 Agu 2025
Share

GEMERLAP kota Jakarta bukan hanya terlihat dari gedung pencakar langit. Dominasi ibu kota juga tercermin dari cara warganya memanfaatkan teknologi digital. Laporan East Ventures–Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2025 mencatat daya saing digital Indonesia naik menjadi 38,8 poin dari skala 0–100.

Skor ini meningkat 0,7 poin dibanding 2024. Indeks daya saing digital sendiri adalah ukuran kemampuan sebuah daerah dalam memanfaatkan teknologi, mulai dari ketersediaan internet, kualitas sumber daya manusia, hingga lahirnya inovasi berbasis digital. Dengan kata lain, indeks ini memperlihatkan seberapa siap masyarakat menjalani aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan publik secara digital.

EV-DCI menilai 38 provinsi dan 157 kabupaten/kota. Penilaian berbasis tiga sub-indeks: input, output, dan penunjang. Dari sana, lahir sembilan pilar dengan 50 indikator, mulai dari infrastruktur, sumber daya manusia, hingga inovasi.
Jakarta kembali menduduki posisi puncak dengan skor 78,4 poin. Jawa Barat menyusul dengan 61,9 poin. Banten naik dua peringkat ke posisi ketiga dengan 55,5 poin.

Kalimantan Timur menjadi satu-satunya provinsi di Kalimantan yang menembus delapan besar. Skor 47,9 poin menunjukkan potensi besar daerah ini, terutama dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, Kaltim tetap menghadapi kendala berupa akses internet yang belum merata dan literasi digital yang masih rendah.

Papua Pegunungan menutup daftar dengan skor 21,6 poin. Papua Tengah meraih 22,6 poin, sementara Sulawesi Barat 33,4 poin. Meski berada di posisi bawah, ketiga provinsi itu tetap mencatat kenaikan skor dibanding tahun lalu.

Capaian 47,9 poin menegaskan bahwa digitalisasi di Kaltim terus bergerak maju, meski jaraknya dengan Jakarta masih lebar. Pemerintah daerah perlu mempercepat pemerataan infrastruktur dan menyiapkan tenaga kerja yang mampu bersaing di era digital.

Kenaikan indeks ini memberi harapan bagi ekonomi digital Indonesia. Namun, kesenjangan antarwilayah tetap nyata. Jika pembangunan tidak merata, hanya sedikit provinsi yang akan menikmati kemajuan. Masa depan digital Indonesia bergantung pada kemampuan semua daerah untuk tumbuh bersama.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin