27 Hari Libur: Ketika Indonesia Menang dalam Urusan Istirahat di ASEAN

kaltimes.com
2 Jun 2025
Share

HARI libur, bagi sebagian orang, adalah jeda kecil yang menyelamatkan kewarasan. Di tengah tekanan pekerjaan dan rutinitas yang menumpuk, satu tanggal merah di kalender bisa terasa seperti hadiah paling berharga. 

Pada 29 Mei lalu, misalnya, masyarakat menikmati libur Kenaikan Yesus Kristus yang bersambung menjadi long weekend karena hari Jumat pun diliburkan. Minggu ini, giliran Idul Adha memberi nafas panjang, dengan hari libur mulai 6 hingga 9 Juni. Di Indonesia, jeda-jeda ini bukan hanya sering datang, tetapi datang paling sering dibandingkan negara-negara tetangga.

Menurut data dari Goodstat, Indonesia menjadi negara dengan hari libur nasional terbanyak di Asia Tenggara, yakni mencapai 27 hari dalam setahun. Ini menjadikan Indonesia sebagai juara dalam urusan libur, jauh melampaui negara-negara tetangga.

Di posisi kedua, Kamboja dan Thailand sama-sama menetapkan 22 hari libur nasional. Meski tak sebanyak Indonesia, keduanya tetap termasuk dalam jajaran negara dengan jumlah hari libur yang cukup tinggi.

Filipina menempati urutan berikutnya dengan total 19 hari libur dalam setahun. Sedikit di bawahnya, Vietnam memiliki 18 hari libur yang ditetapkan secara nasional.

Malaysia dan Myanmar berbagi angka yang sama, masing-masing dengan 17 hari libur. Jumlah ini tergolong sedang bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan.

Brunei Darussalam menetapkan 15 hari libur nasional, sedikit lebih rendah dari Malaysia dan Myanmar. Singapura bahkan lebih sedikit lagi, dengan hanya 11 hari libur resmi dalam setahun.

Paling minimal, Laos hanya memberikan 7 hari libur nasional, menjadikannya negara dengan jumlah hari libur paling sedikit di Asia Tenggara.

Fenomena ini mengundang beragam pandangan. Bagi sebagian masyarakat, banyaknya hari libur adalah bentuk penghargaan atas hak istirahat dan perayaan budaya dan keagamaan yang beragam. Namun bagi dunia usaha dan produktivitas ekonomi, ini bisa menjadi tantangan tersendiri. Yang jelas, Indonesia tampaknya menaruh nilai tinggi pada waktu luang. Hal ini sebuah kemewahan yang semakin langka di dunia kerja modern.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin