DI TENGAH lesunya penjualan mobil baru, pasar kendaraan bekas justru bersinar. Kini, mimpi punya mobil tak harus lewat showroom megah, cukup dari tangan kedua yang kian dipercaya. Pilihan ini bukan lagi sekadar alternatif, tapi jadi jawaban rasional di tengah tekanan ekonomi.
Dilansir dari CNN, data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan lonjakan yang mencolok. Dari total sekitar 3 juta unit mobil yang berpindah tangan setiap tahun di Indonesia, dua pertiganya justru berasal dari pasar mobil bekas. Artinya, hanya sepertiga atau sekitar 1 juta unit merupakan mobil baru.(Mobil Bekas Lebih Laku dari Mobil Baru di Indonesia, CNN Indonesia, 2025)
Angka ini sejatinya stabil dalam beberapa tahun terakhir. Namun pada 2024, penjualan mobil baru justru anjlok ke angka 800 ribuan unit. Gaikindo menyebut industri mobil bekas terus berkembang karena beberapa faktor, salah satunya perlambatan ekonomi yang melemahkan daya beli masyarakat terhadap mobil baru.
Industri mobil bekas kini jauh lebih transparan dan profesional. Banyak showroom mobil bekas berani memberi garansi, sehingga pembeli merasa lebih aman. Gaikindo mencatat penjualannya bisa tembus 2 juta unit per tahun. Meski begitu, tren ini belum berdampak besar ke industri otomotif karena lebih banyak perputaran barang, bukan produksi baru.
Penurunan penjualan mobil baru memang semakin terasa. Data dari sumber yang sama mencatat total penjualan mobil baru sepanjang 2024 mencapai 865.723 unit. Angka ini turun hampir 13 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1.005.802 unit.

Tren penurunan ini berlanjut di awal 2025. Dari Januari hingga April, penjualan dari pabrik ke dealer (wholesales) tercatat hanya 256.368 unit, turun sekitar 2,9 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Penurunan lebih dalam terjadi di jalur retail, yakni dari dealer ke konsumen, yang merosot hingga 7,7 persen.
Kondisi makin memburuk pada April 2025. Penjualan wholesales anjlok jadi 51.205 unit, turun hampir 30 persen dibanding Februari. Sementara penjualan retail juga ikut merosot dari 76.582 unit di Maret menjadi hanya 57.031 unit, atau turun sekitar 25,5 persen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa mobil bekas kini tak sekadar menjadi pelengkap industri otomotif, tetapi justru menjadi poros utama pergerakan pasar. Naiknya kepercayaan dan menurunnya daya beli membuat mobil bekas lebih unggul di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun di sisi lain, fakta ini juga jadi cermin tantangan serius bagi industri otomotif nasional. Saat pabrik menurunkan produksi dan showroom sepi pengunjung, pasar justru hidup di jalan-jalan alternatif. Sebuah ironi sekaligus peluang yang menanti arah kebijakan yang lebih adaptif.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin