Kaltimes.com – Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman terhadap negara-negara BRICS.
Ia mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% pada negara-negara anggota BRICS jika mereka berusaha menciptakan mata uang baru atau mendukung mata uang alternatif yang bisa menggantikan dolar AS.
Melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu (30/11), Trump menegaskan bahwa AS menuntut komitmen dari negara-negara BRICS untuk tidak menciptakan mata uang pengganti dolar.
“Jika mereka melanggar, tarif 100% akan diberlakukan, dan mereka akan kehilangan akses ke ekonomi AS,” tulis Trump di Truth Social, seperti yang dilansir oleh AP.
Blok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab, kini sedang gencar mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.
Negara-negara seperti Turki, Azerbaijan, hingga Malaysia telah menyatakan minatnya untuk bergabung dengan BRICS, sementara Indonesia juga menunjukkan ketertarikan.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, pada KTT BRICS Oktober lalu.
Meski upaya de-dolarisasi semakin berkembang, posisi dolar AS masih sangat dominan. Menurut data IMF, dolar AS masih menguasai sekitar 58% cadangan devisa global.
Namun, upaya untuk menciptakan sistem pembayaran alternatif dan mengurangi dominasi dolar berpotensi mengancam kekuasaannya. Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Sebelumnya juga mengkritik AS yang dianggap “memersenjatai” dolar untuk kepentingan geopolitiknya, dan mendesak negara-negara BRICS untuk membangun sistem pembayaran alternatif agar bisa menghindari sanksi Barat.
Ancaman Trump ini bukan kali pertama. Sebelumnya, Trump juga menggunakan ancaman tarif untuk menekan negara-negara seperti Meksiko, Kanada, dan China dalam berbagai perundingan perdagangan.
Meski begitu, menurut riset dari Atlantic Council, meski upaya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar terus berkembang, dolar masih akan tetap dominan sebagai mata uang cadangan global dalam waktu dekat. (net/ra)