Tak Ada Yang Lebih Menyakitkan Dari Seorang Ibu yang Kehilangan Anaknya

kaltimes.com
16 Mei 2025
Share

DALAM senyap malam, seekor induk gajah berdiri tak bergeming di pinggir jalan. Matanya melihat truk besar yang telah merenggut nyawa anaknya. Ia menatap ke bawah truk, seolah berharap anaknya akan bangkit dan kembali bermain di sampingnya.

Menurut berita Detik.com, kecelakaan itu terjadi pada 11 Mei 2025 sekitar pukul 02.00 Wita  dini hari di Jalan Raya Timur-Barat, Perak, Malaysia. Truk pengangkut ayam menabrak seekor anak gajah yang menyeberang jalan bersama induknya. Pengemudi mengaku telah melihat gajah dewasa lebih dulu di bahu jalan. Naasnya, pengemudi tak menduga anak gajah muncul tiba-tiba dari semak sebelah kiri. Jarak yang terlalu dekat membuatnya tak bisa menghindar. Anak gajah mati di tempat. Sang induk marah, merusak bagian depan truk, lalu menunggu di samping jasad anaknya. (Pilu… Anak Gajah Mati Terlindas Truk, Induk Bergeming Tak Mau Pergi, Detik, 2025)

Keesokan harinya, seekor gajah dewasa terekam berjalan sendirian di lokasi yang sama. Banyak yang percaya, itu adalah induk gajah yang masih mencari anaknya. Warganet bersaksi bahwa sang induk mondar-mandir di pinggir jalan, seolah masih berharap anaknya keluar dari balik truk. Video itu menguras air mata netizen, yang menyaksikan bagaimana naluri seorang ibu tak padam, bahkan setelah kehilangan.

Dikutip dari Detik, pihak Departemen Perlindungan Satwa Liar dan Taman Nasional Perak mengatakan bahwa induk gajah awalnya enggan pergi dari lokasi kecelakaan. Tim penyelamat terpaksa memberikan obat penenang agar dapat memindahkannya kembali ke hutan. Pihak pengelola belum bisa memastikan apakah gajah yang muncul sehari setelahnya adalah individu yang sama. Mereka meyakini bahwa sang induk telah kembali bergabung dengan kelompoknya.(Gajah Luntang-lantung di Jalan, Netizen: Cari Anak yang Mati Ditabrak Truk, Detik, 2025)

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik antara manusia dan satwa liar kian meruncing. Jalan raya yang membelah habitat, kendaraan yang tak dapat menghindar, dan hewan yang kehilangan rumahnya adalah potret tragis pembangunan. Semua itu menunjukkan betapa terabaikannya pembangunan terhadap keseimbangan lingkungan.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin