Kaltimes.com – Bashar al-Assad, presiden terguling Suriah, bersama keluarganya kini berada di Moskow setelah Rusia memberikan suaka atas dasar kemanusiaan.
Langkah ini terjadi setelah kelompok oposisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) berhasil menguasai Damaskus pada Minggu (8/12), mengakhiri kekuasaan dinasti Assad yang berlangsung lebih dari lima dekade.
Seperti dilaporkan oleh kantor berita Interfax, sumber dari Kremlin menyebut Rusia juga mendesak agar transfer kekuasaan di Suriah dilakukan secara damai.
“Presiden Suriah Assad dan anggota keluarga tiba di Moskow. Rusia memberikan mereka suaka atas alasan kemanusiaan,” demikian pernyataan Interfax yang dikutip dari Reuters.
Meski Assad kini berada di luar Suriah, kelompok berpengaruh di negara itu memastikan keamanan pangkalan militer dan institusi diplomatik Rusia.
Dua pangkalan utama, yaitu di Hmeimim dan Tartous, memiliki peran strategis bagi Rusia, terutama pangkalan Tartous yang menjadi satu-satunya tempat perbaikan alat militer Rusia di Mediterania.
Kehilangan akses ke pangkalan ini disebut sebagai ancaman besar terhadap pengaruh Rusia di Timur Tengah dan Afrika.
Namun, kondisi di lapangan tetap memanas.
Blogger perang terkenal Rusia, Rybar, menyebut kehadiran militer Rusia di Suriah kini berada dalam posisi genting.
“Apa pun keputusan di tingkat tinggi, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan yang signifikan,” ujarnya.
Hingga kini, laporan Rybar belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa tidak ada ancaman serius terhadap pangkalan mereka, meskipun status siaga tetap diberlakukan.
Perkembangan ini menjadi gambaran nyata tentang ketegangan geopolitik yang terus meningkat di kawasan tersebut, dengan potensi dampak besar terhadap stabilitas di Timur Tengah dan sekitarnya. (net/ra)