Kaltimes.com – Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menghadapi tekanan setelah pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS pada Januari 2025.
Andry menyebutkan bahwa tekanan ini bisa berlangsung hingga enam bulan, mirip dengan periode pertama Trump menjabat sebagai Presiden AS.
Menurutnya, selama periode pertama, volatilitas dolar AS sangat tinggi selama 1-6 bulan pertama.
“Pressure masih akan cukup besar, tergantung USD. Periode pertama Trump, volatilitasnya luar biasa, setelah itu pasar bisa membaca dan normalisasi,” ujarnya dalam acara Bank Indonesia Bersama Masyarakat (BIRAMA) 2024 di Gedung BI Thamrin, Jakarta, pada Senin (2/12) seperti dikutip dari Kumparan.
Andry juga menambahkan bahwa kebijakan AS yang mungkin berbeda dari prediksi pasar akan turut mempengaruhi kondisi pasar valas domestik.
Hal ini, menurutnya, akan menambah suplai valuta asing di pasar.
“Ini perlu sinergi dengan Bank Indonesia dan pemerintah untuk membuka lebih banyak instrumen-instrumen,” katanya.
Firman Mochtar, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), menegaskan bahwa BI akan terus menjaga stabilitas rupiah terhadap dolar AS.
Salah satunya dengan melakukan intervensi pasar.
“Pasti kita tidak ingin rupiah bergerak dengan volatilitas tinggi. Itu akan kita kendalikan melalui intervensi,” ujar Firman.
Untuk menjaga kestabilan, BI juga akan mengatur suku bunga atau BI Rate, serta melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar sekunder.
“Sekarang kami fokus pada stabilitas dan mempertahankan BI Rate yang tepat,” tambahnya.
Berdasarkan data dari Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup di Rp 15.905, melemah 58 poin atau 0,37 persen. (net/ra)