Kaltimes.com – Pemerintah Prancis mengambil langkah mengejutkan dengan menghentikan pengiriman senjata ke Israel dalam upaya untuk mengurangi ketegangan yang meningkat terkait konflik Gaza dan Lebanon. Keputusan ini, yang diumumkan oleh Presiden Emmanuel Macron pada awal Oktober, bertujuan untuk menghindari eskalasi lebih lanjut dan menjaga stabilitas kawasan. Macron menegaskan, “Prancis akan fokus pada solusi politik, dan senjata yang digunakan dalam perang di Gaza harus dihentikan.”
Keputusan ini datang di tengah kunjungan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot ke Timur Tengah, yang juga mengungkapkan keprihatinan terkait dampak konflik terhadap rakyat Lebanon, yang menurut Macron tidak boleh menjadi “Gaza berikutnya.” Prancis sendiri, meskipun bukan penyedia senjata utama bagi Israel, tetap memiliki peran penting dalam ekspor peralatan militer yang sebelumnya bernilai sekitar 30 juta euro pada tahun lalu.
Namun, langkah Prancis ini tidak diterima dengan baik oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam sebuah pernyataan keras, Netanyahu menyebut keputusan tersebut sebagai “aib” dan menegaskan bahwa Israel akan tetap melanjutkan konflik meski tanpa dukungan dari negara-negara Barat. Netanyahu, yang terkenal dengan sikap tegas terhadap Iran dan kelompok-kelompok militan di Gaza, menyatakan, “Israel akan menang dengan atau tanpa dukungan mereka.”
Pernyataan ini semakin memperburuk ketegangan diplomatik antara Israel dan negara-negara Barat. Netanyahu juga menuduh Prancis dan negara-negara Barat lainnya tidak memahami situasi di lapangan dan menyebut seruan untuk embargo senjata sebagai langkah yang tidak bijak, mengingat ancaman yang terus berkembang dari Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya di wilayah tersebut.
Keputusan Prancis ini mendapat sambutan positif dari Palestina, yang menyatakan bahwa langkah tersebut mendukung upaya penyelesaian damai dan menghormati prinsip hak asasi manusia. Sementara itu, masyarakat internasional terus memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat ketegangan yang semakin meningkat di kawasan tersebut.
Netanyahu menekankan bahwa Israel akan terus berjuang untuk melindungi dirinya dan membela rakyatnya, bahkan dalam situasi tanpa dukungan internasional. Dengan ketegangan yang semakin mendalam, masa depan hubungan diplomatik dan militer antara Israel dan Prancis kini menjadi sorotan.