Pemberontak Suriah Serang Aleppo, Rusia Tanggapi dengan Serangan Udara

kaltimes.com
2 Des 2024
Share
Pasukan keamanan berjaga di sekitar kota Aleppo, Suriah. (Foto: BAKR ALKASEM/AFP)

Kaltimes.com – Pertempuran sengit kembali meletus di Aleppo, Suriah, pada Sabtu malam (30/11), saat kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) melancarkan serangan terbesar mereka sejak 2020.

Serangan tersebut menewaskan puluhan tentara Suriah, dan HTS berhasil menguasai sebagian besar wilayah Aleppo, termasuk bandara kota.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Presiden Bashar al-Assad yang telah menguasai kota tersebut sejak 2016. Militer Suriah segera melakukan penempatan ulang pasukan untuk memperkuat pertahanan mereka.

Sebagai respons, Rusia yang merupakan sekutu utama Assad, melancarkan serangan udara ke posisi pemberontak di Aleppo dan Idlib.

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa serangan ini menewaskan 300 pejuang pemberontak.

Namun, serangan udara ini juga menyebabkan korban di kalangan warga sipil, dengan empat orang dilaporkan tewas dan enam lainnya terluka, menurut Pertahanan Sipil Suriah.

Di tengah kekacauan tersebut, sebuah video pejuang pemberontak bernama Ali Jumaa menarik perhatian.

Dalam video tersebut, Jumaa mengungkapkan bahwa ia adalah putra Aleppo yang delapan tahun lalu terpaksa mengungsi, namun kini dapat kembali ke kota tersebut.

Sementara itu, patung Bassil al-Assad, saudara mendiang Presiden Assad, digulingkan oleh pemberontak yang mengadakan parade di jalanan.

Ketegangan geopolitik terus berlanjut, dengan Rusia dan Iran mendukung Assad, sementara Turki menyokong beberapa kelompok pemberontak.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dan mitranya dari Turki, Hakan Fidan, telah melakukan diskusi untuk mencari solusi stabilitas.

Namun, Iran menilai serangan pemberontak ini sebagai bagian dari rencana Israel dan AS untuk mengguncang kawasan.

Seperti yang dilaporkan oleh Reuters, kelompok oposisi mengklaim bahwa operasi ini merupakan respons terhadap serangan udara Rusia dan Suriah yang menargetkan warga sipil di Idlib.

Komandan Jaish al-Izza, Mustafa Abdul Jaber, menyebut keberhasilan serangan ini dipicu oleh lemahnya dukungan pasukan Iran di Aleppo.

Perang Suriah yang telah berlangsung sejak 2011 masih menunjukkan ketegangan yang tinggi, tidak hanya di Aleppo tetapi juga di wilayah-wilayah lain di Timur Tengah seperti Gaza dan Lebanon. (net/ra)