Kaltimes.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan keheranannya atas ketergantungan Indonesia pada impor BBM dari Singapura, mencapai 60% dari total impor.
“Kalau Amerika masih masuk akal, dia punya minyak, dia punya gas. Di Singapura apa minyaknya? Kenapa kita impor di sana?” kata Bahlil saat CNN Business Summit, Jumat (20/12).
Menurut Bahlil, Indonesia masih bergantung pada impor komoditas energi, seperti LPG yang mencapai 6-7 juta ton per tahun dengan subsidi energi Rp 87 triliun.
“Saya mengecek lagi, ini kenapa begini? Ini ada yang salah,” tambahnya.
Bahlil juga menjelaskan bahwa biang keroknya adalah tidak tersedianya bahan baku LPG di Indonesia, yakni Propane (C3) dan Butane (C4).
Indonesia baru menemukan penambahan 1,7 juta dari cadangan gas yang bisa dikonversi ke LPG.
Untuk mengatasi ketergantungan impor, Bahlil berencana meningkatkan produksi LPG dalam negeri dan mengembangkan jaringan gas.
“Kalau ini mampu kita lakukan, berarti kita melakukan efisiensi terhadap subsidi dan perputaran uang dalam negeri,” ujarnya.
Data menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor BBM sekitar 600 ribu barel per hari dari kilang Singapura, Malaysia, dan India, sedangkan impor minyak mentah hanya 240 ribu barel per hari. (net/ra)