TERIK matahari musim panas menyinari sudut kota, tetapi taman bermain di pusat ibu kota tampak sunyi. Ayunan-ayunan besi bergoyang pelan tertiup angin tanpa tawa riang. Jaring gawang di lapangan bola mini tampak berdebu. Suasana ini seolah memotret masa depan banyak negara maju: ruang untuk anak-anak semakin luas, tetapi populasi anak justru semakin menipis.
Sejak 1950, angka kelahiran global terus mengalami penurunan signifikan. Fenomena ini menjadi masalah serius karena angka kelahiran merupakan indikator utama pertumbuhan penduduk suatu negara.
Penurunan ini secara langsung memengaruhi ukuran tenaga kerja masa depan, mengurangi kelompok usia produktif yang menopang ekonomi, serta meningkatkan beban alokasi sumber daya untuk populasi lansia. Negara-negara yang mengalami penurunan tajam berisiko menghadapi krisis demografi, di mana struktur usia penduduknya menjadi tidak seimbang.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat lima negara dengan angka kelahiran terendah pada tahun 2025. Angka kelahiran ini dihitung berdasarkan jumlah kelahiran per 1.000 orang dalam suatu populasi selama periode waktu tertentu.
Masalah Sosial Ekonomi di Balik Data
Negara dengan angka kelahiran paling rendah di dunia adalah Korea Selatan, dengan angka kelahiran sebesar 4,76 per 1.000 orang. Rendahnya angka kelahiran di Korea Selatan berakar pada masalah biaya hidup yang sangat mahal, budaya kerja yang sangat kompetitif, serta ketimpangan peran gender dalam rumah tangga. Faktor-faktor ini membuat generasi muda enggan menikah dan memiliki anak.
Pada urutan kedua, Hong Kong mencatat angka kelahiran sebesar 5,27 per 1.000 orang. Warga Hong Kong menghadapi masalah yang mirip dengan Korea Selatan, terutama masalah harga rumah dan properti di Hong Kong yang tidak masuk akal. Mahalnya biaya properti memaksa pasangan menunda atau membatalkan rencana memiliki anak.
Sementara itu, Ukraina menempati posisi ketiga dengan angka kelahiran 5,65 per 1.000 orang. Sejak invasi Rusia, krisis demografi melanda Ukraina karena meningkatnya angka kematian, ketidakamanan negara, dan kesulitan ekonomi, yang membuat warga Ukraina takut merencanakan keluarga.
San Marino, yang berada di urutan keempat, memiliki angka kelahiran sebesar 5,79 per 1.000 orang. San Marino merupakan salah satu negara terkecil di dunia dengan populasi yang kecil, sehingga angka kelahirannya secara proporsional juga rendah.
Posisi kelima diisi oleh Jepang dengan angka kelahiran sebesar 6,08 per 1.000 orang. Gaji yang stagnan ditambah biaya hidup tinggi serta budaya kerja Jepang yang keras membatasi work-life balance menjadi alasan utama rendahnya angka kelahiran di negara tersebut.

Angka Kelahiran di Indonesia
Tren penurunan angka kelahiran juga Indonesia hadapi. Data menunjukkan, angka kelahiran Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 16,40 per 1.000 orang. Angka ini terus menurun. Indonesia mencatat angka 16,61 pada 2024 dan 16,82 pada 2023. Meskipun Indonesia terus mengalami penurunan, angkanya masih jauh lebih tinggi dibanding lima negara yang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) data.
Kelebihan Indonesia saat ini, yang berhasil menjaga angka kelahiran di atas angka kritis, memungkinkan negara mempertahankan bonus demografi. Ini berarti Indonesia masih memiliki populasi usia produktif yang besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Tantangan lima negara terendah (seperti sistem pensiun dan tenaga kerja) menunjukkan Indonesia perlu bijak mengelola sumber daya manusianya. Negara harus menciptakan stabilitas ekonomi dan kebijakan yang mendukung keluarga muda agar tren penurunan tidak drastis, sekaligus menjaga kualitas sumber daya manusia yang ada.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin