GEMERLAP layar gawai kini menjadi jendela utama masyarakat mencari kabar. Namun, di tengah derasnya arus informasi, publik dituntut memilih media yang benar-benar bisa dipercaya.
Pers sejak lama berperan sebagai penyalur informasi dan pengawas kekuasaan. Tetapi, di era internet, ribuan portal berita bermunculan tanpa jaminan akurasi. Kondisi ini membuat publik semakin sulit membedakan antara jurnalisme serius dan sekadar konten opini tanpa dasar.
Kompas dan Media Arus Utama Jaga Kredibilitas
Menurut laporan Digital News Report 2025 dari Reuters Institute, Kompas memimpin daftar media paling dipercaya publik Indonesia dengan tingkat kepercayaan 62 persen. Kompas menjaga konsistensi lewat liputan mendalam, bahasa netral, dan rekam jejak panjang sebagai media cetak maupun digital. Kombinasi itu membuat publik menjadikannya rujukan utama di tengah banjir informasi.
CNN Indonesia menempati posisi kedua dengan 61 persen. Publik menilai CNN menyajikan berita cepat dengan standar internasional. Media ini menggabungkan kekuatan televisi dan portal digital sehingga tetap relevan di era multiplatform.
TVOne mencatat 60 persen dan duduk di posisi ketiga. Stasiun ini menekankan liputan politik serta isu aktual, yang mendorong publik menaruh kepercayaan padanya.
Detik.com dan SCTV (Liputan6) sama-sama meraih 59 persen kepercayaan publik. Detik.com menonjol lewat kecepatan berita online, sementara Liputan6 menarik perhatian dengan penyajian visual yang kuat.
TVRI mengumpulkan 58 persen dan menempati posisi keenam. Televisi publik ini mendapat simpati karena menjaga citra netral dan tidak sepenuhnya bergantung pada kepentingan komersial.
RCTI mencatat 57 persen. Stasiun TV swasta terbesar ini mempertahankan kepercayaan publik berkat jangkauan siaran luas dan keberadaan lama di layar kaca.
Tempo dan Tribunnews sama-sama mengantongi 53 persen. Tempo memperkuat posisinya lewat tradisi jurnalisme investigatif, sedangkan Tribunnews menarik banyak pembaca karena jaringan regional yang masif.
Jawa Pos menutup daftar sepuluh besar dengan tingkat kepercayaan 50 persen. Koran ini mengandalkan basis pembaca kuat di daerah. Meski menghadapi tantangan digital, Jawa Pos tetap menjaga reputasi sebagai media penting di Indonesia.

Tantangan Kepercayaan Publik
Meski daftar ini menampilkan media yang dipercaya, tidak ada satu pun yang menembus angka kepercayaan 70 persen. Dilansir GoodStat (22/9/2025), Janet Steele, profesor media dari George Washington University, menilai kondisi ini menunjukkan kebebasan berekspresi di Indonesia masih menghadapi tantangan.
Steele menyoroti revisi UU Penyiaran 2002 serta UU ITE 2024 yang memperketat ruang digital. Aturan itu memberi pemerintah wewenang besar mengatur sistem elektronik, termasuk platform global seperti Google dan TikTok. Jika tren ini berlanjut, publik berisiko kehilangan akses informasi independen, sementara media kesulitan menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan.
Solusi ideal adalah regulasi yang melibatkan publik, jurnalis, akademisi, dan masyarakat sipil. Pemerintah perlu memastikan setiap aturan selaras dengan prinsip kebebasan pers agar media tetap dipercaya dan mampu menjaga demokrasi.
Kebebasan pers bukan hanya hak jurnalis, tetapi juga hak warga untuk memperoleh informasi yang benar. Di tengah derasnya informasi digital, menjaga media tepercaya berarti menjaga masa depan demokrasi. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin