Kaltimes.com – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mempersiapkan langkah kontingensi bagi warga negara Indonesia (WNI) di Suriah menyusul eskalasi perang yang melibatkan negara-negara asing.
Pada 27 November, pasukan pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menyerang Aleppo, untuk pertama kalinya sejak 2016, yang memicu ketegangan lebih lanjut.
Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha, menyatakan bahwa KBRI Damaskus telah menyiapkan rencana kontingensi bagi WNI.
“Kami segera melakukan koordinasi dengan KBRI Damaskus untuk langkah-langkah kontingensi,” ujar Judha dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/12).
Sebagai bagian dari langkah tersebut, status siaga telah ditingkatkan untuk delapan provinsi di Suriah, termasuk Aleppo, Idlib, Hama, dan lainnya.
Sebanyak 1.162 WNI tinggal di Suriah, dengan sebagian besar berada di Damaskus, sementara 29 WNI berada di Aleppo dan 6 di Hama, dua wilayah yang tengah dilanda kekacauan.
Judha menambahkan bahwa mayoritas WNI di Suriah bekerja di sektor domestik dan pendidikan.
“Kami terus memantau situasi untuk memastikan keselamatan WNI,” ungkapnya.
Konflik di Suriah semakin memanas, dengan estimasi 571 korban jiwa akibat pertempuran antara oposisi dan pasukan pemerintah.
Militer Suriah telah menarik pasukan dari Aleppo pada akhir November, sementara pertempuran meluas ke Idlib dan wilayah lain. (net/ra)