Ketika Hidup Terasa Terlalu Berat: Lonjakan Kasus Bunuh Diri Tunjukkan Luka yang Tak Terlihat

kaltimes.com
5 Jul 2025
Share

SETIAP kasus bunuh diri, ada cerita yang tak terdengar, beban yang tak terbagi dan jeritan sunyi yang luput dari perhatian. Dalam lima tahun terakhir, Indonesia menyaksikan lonjakan mengkhawatirkan. Kasus bunuh diri meningkat 60 persen.

Data yang dilansir dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) mencatat pada 2020, kasus bunuh diri tercatat sebanyak 640 kasus. Angkanya sedikit menurun di 2021 menjadi 629. Sayangnya angka ini melonjak drastis menjadi 887 kasus pada 2022. 

Tren tersebut terus naik pada 2023 dengan 1,3 ribu kasus, sebelum akhirnya sedikit menurun menjadi 1,02 ribu kasus pada 2024. Meski ada penurunan di tahun terakhir, secara keseluruhan kasus bunuh diri dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan tajam. Data ini mencerminkan urgensi persoalan kesehatan mental yang belum sepenuhnya tertangani. 

Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan (Dirjen Nakes) Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, seperti dilansir GoodStats pada 2024, menjelaskan banyak faktor yang melatarbelakangi tindakan bunuh diri. Faktor biologis, genetik, psikologis, budaya, dan lingkungan turut membentuk kerentanan seseorang. Pencegahan perlu dilakukan dari hal-hal sederhana, seperti memperkuat empati dan membangun komunikasi yang terbuka. 

Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes, Imran Pambudi, menambahkan bahwa kehadiran seseorang bisa menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berada dalam masa sulit. Ia mengajak masyarakat untuk membuka diri dan saling memperhatikan, menjadi ‘flashlight’ bagi diri sendiri maupun orang terdekat yang sedang berjuang dalam diam.

Kasus bunuh diri bukan hanya persoalan individu, tetapi juga cermin dari rapuhnya sistem dukungan sosial. Ketika angka terus naik, yang dibutuhkan bukan hanya intervensi medis, tetapi juga keberanian kolektif untuk lebih peduli, hadir, dan menjadi telinga bagi mereka yang butuh didengar.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin