Kaltimes.com – Israel sedang mempersiapkan peningkatan serangan udara ke gudang persenjataan canggih di Suriah, menyusul jatuhnya Presiden Bashar al-Assad akibat pergolakan politik di negara tersebut.
Langkah ini diambil untuk mencegah senjata strategis, seperti rudal permukaan-ke-permukaan dan sistem pertahanan udara, jatuh ke tangan kelompok ekstremis yang semakin aktif di kawasan itu.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, mengungkapkan dalam pernyataan resmi, seperti dilansir dari Reuters, bahwa serangan ini bertujuan untuk menghancurkan senjata berat yang tersisa di Suriah, termasuk senjata kimia, roket jarak jauh, dan sistem pertahanan rudal.
Kepergian Assad membuka babak baru di Timur Tengah, dengan Israel menghadapi dilema antara harapan dan kewaspadaan.
Di satu sisi, pengaruh Iran, sekutu utama Assad, telah melemah di kawasan tersebut.
Namun, munculnya kelompok pemberontak bersenjata dengan afiliasi ideologi Islamis menambah ancaman baru bagi keamanan regional.
Untuk mengantisipasi ancaman, Israel telah mengirimkan pasukan ke zona demiliterisasi di perbatasan Dataran Tinggi Golan, yang menjadi wilayah strategis yang diperebutkan sejak Perang Yom Kippur 1973.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menegaskan bahwa langkah ini bersifat sementara dan bertujuan untuk melindungi warga Israel dari ancaman senjata yang jatuh ke tangan kelompok ekstremis.
Selain itu, Israel juga memperketat pertahanan di Golan dengan membersihkan ranjau darat dan membangun penghalang baru di perbatasan Suriah.
Foto-foto operasi pasukan Israel di Gunung Hermon, yang menghadap Suriah, telah dipublikasikan untuk menunjukkan langkah-langkah yang diambil demi keamanan nasional.
Namun, meskipun beberapa negara mendukung upaya Israel, ada juga kekhawatiran bahwa langkah ini dapat meningkatkan risiko eskalasi konflik dengan kekuatan regional lain seperti Rusia dan Turki, yang memiliki kepentingan di Suriah. (net/ra)